Di luar persoalan nasib, tabrakan ternyata memiliki rumusnya sendiri. Jika rumus itu digunakan, seseorang bisa mengaturnya sendiri, kapan ia butuh bertabrakan dan kapan tidak. Konsep menyetir teman saya ini adalah contoh terbaiknya.
Menumpang mobil teman yang satu ini saya sering dibuat terkaget-kaget. Ia sering memotong jalan begitu saja, menyerobot jalur lawan dan berpapasan di jalur sempit tanpa perlu mengurangi kecepatan. Anehnya, dengan konsep mengemudi yang berbahaya ini ia tak pernah bertabrakan, setidaknya sampai saya menulis kolom ini. Saya bertanya kepadanya, mengapa.
''Tabrakan hanya terjadi kalau saya dan dia sama-sama nekat. Kalau saya yang nekat, pasti dia yang mengalah,'' jawabnya.
Jawaban ini menarik perhatian saya tapi tidak cukup memuaskan saya. Betapapun tak seluruh hidupnya ia bisa selalu nekat dan tak selamanya orang lain akan selalu mengalah. Ada saatnya orang lain yang nekat dan kita akan menjadi korban kenekatannya. ''Lho, kalau dia nekat, saya yang mengalah,'' jawab si teman ini ringan, seringan gaya nyopirnya.
Jadi nekat dan mengalah, baginya cuma ketrampilan rutin saja. Tidak pernah menjadi persoalan besar, tidak pernah masuk di hati. Ketika tengah menyerobot jalur dan orang lain yang mengalah, ia tak merasa sedang menjadi menang dan super. Ketika orang lain yang nekat dan dia yang harus mengalah, ia tak merasa sebagai pihak yang kalah, terhina dan harus marah.
Jadi mengalah dan menyerobot hanyalah persoalan kerja sama saja. Siapa yang akan mengambil haknya lebih dulu, pihak lain tinggal melaksanakan kewajibannya. Jika pihak lawan sedang mengambil hak nekatnya, kewajiban kita adalah mengalah. Terus jika keduanya memutuskan mengambil hak nekatnya dalam waktu bersamaan? ''Lha itu nasib,'' jawabnya. ''Jika sudah menyangkut nasib, ya sudah,'' tambahnya.
Saya mengagumi keputusan kawan ini setidaknya dari tiga perkara. Pertama ia masih hidup sampai kini. Kedua bahwa barang siapa menguasai rumus, ia akan terhindar dari bahaya. Pekerjaan paling besar, paling berisiko pun, menjadi pekerjaan yang mudah saja jika seseorang telah mengerti rumusnya.
Tapi kekaguman terpenting adalah soal yang ketiga. Bahwa terhadap sesuatu yang bersifat ketrampilan, manusia tak perlu terlalu bersikap serius. Padahal ketrampilan teman saya ini sudah sampai di level yang menarik. Karena ia tak cuma bisa mengemudi, melainkan juga terampil menyerobot tapi juga terampil mengalah.
Mengalah, yang bagi orang lain masih sering dihubung-hubungkan dengan harga diri, dengan prinsip dan idealisme, bagi teman saya ini tak lebih dari barang kerajinan saja. Jika mengemudi adalah kerajinan tangan, mengalah baginya adalah kerajinan hati. Ada handycraft, ada heartycraft.
Kerajinan hati inilah yang kemudian menjadi nilai termahalnya. Tak ada masalah yang terlalu rumit karena semua masalah terlihat sebagai mudah. Tak ada masalah besar karena semua yang besar bisa dibuat kecil. Ini tentu berbeda dari hobi kita yang sering memperbesar masalah kecil menjadi besar.
Hanya karena disalip di tikungan, seseorang perlu mengejar penyalipnya dan berkelahi sejadi-jadinya sampai keduanya harus berpisah di dua tempat, yang satu di rumah sakit yang satu ditahan di kantor polisi. Cuma karena dipelototi sesama pengemudi harus saling menghentikan kendaraannya dan membuat klarifikasi; ''Sudah salah, melotot pula!''sembur kita.
Begitu marah kita terhadap orang yang salah sambil melotot ini. Karena di benak kita, pihak yang salah itu adalah pihak yang otomatis tidak boleh melotot. Padahal mata itu adalah matanya sendiri.
Dan siapa yang menjamin bahwa manusia adalah benda otomatis? Tak ada. Toh nyatanya ada jenis manusia yang bukan cuma tak malu pada kejahatannya melainkan malah menganggapnya sebagai prestasi. Jika tak percaya silakan Anda cari sendiri.
