<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="yes"?>

<rdf:RDF 
  xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" 
  xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
  xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
  xmlns:cc="http://web.resource.org/cc/"
  xmlns="http://purl.org/rss/1.0/"
> 

  <channel rdf:about="http://jagat.twoday.net/">
    <title>..:  don´t  be glamour  :..</title>
    <link>http://jagat.twoday.net/</link>
    <description></description>
    <dc:publisher>jagat</dc:publisher>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    <dc:date>2005-06-14T13:08:11Z</dc:date>
    <dc:language>en</dc:language>
    <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
    <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
    <sy:updateBase>2000-01-01T00:00:00Z</sy:updateBase>
    
    <image rdf:resource="http://twoday.net/static/jagat/images/icon.jpg" />
    <items>
      <rdf:Seq>
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/763504/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/718344/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/688419/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/687457/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/486682/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/486678/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452960/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452959/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452958/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452957/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452955/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452954/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452952/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452950/" />
            <rdf:li rdf:resource="http://jagat.twoday.net/stories/452949/" />

      </rdf:Seq>
    </items>
  </channel>

  <image rdf:about="http://twoday.net/static/jagat/images/icon.jpg">
    <title>..:  don´t  be glamour  :..</title>
    <url>http://twoday.net/static/jagat/images/icon.jpg</url>
    <link>http://jagat.twoday.net/</link>
  </image>

  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/763504/">
    <title>Ernesto &quot;Che&quot; Guevara</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/763504/</link>
    <description>Oleh kisapujagat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Many will call me an adventurer - and that I am, only one of a different sort: one of those who risks his skin to prove his platitudes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1928-1967) Latin American Revolutionary&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ernesto &quot;Che&quot; Guevara, kehidupan dunia, kawan, kehidupan kutub Barat dan kutub Timur, kehidupan revolusi, kehidupan langit dan kehidupan bangsa kapitalis, apakah cukup panjang jika waktu itu kau juga jaga dari rasa bosan perjalanan dan keinginan untuk tetap bertahan pada tingginya tebing-tebing sunyi dan lebatnya hutan perjuangan, hentikan pertapaanmu manakala melihat manusia banyak yang begitu tidak menapak tanah, menepuk dada, memainkan pola pikir tuan tanah dan bayangannya menginjak anak-anak bangsa tanpa bapak, padahal kaki dan jasadnya menyetubuhi lapar sang janda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ernesto &quot;Che&quot; Guevara, kawanku, bertelanjang dada lah dibawah sinar matahari di pagi hari, sebab dia bersuka rela akan menunjukan dimana nista kita, pun kita sebagai pemimpin perjuangan revolusi, atau hanya kura-kura yang mengejewantah dan ingin di posisikan selalu sebagai pemimpin para pemimpin. Hidup, mati dan air adalah buku suci tiap kaca dan kata-kata nya adalah masa depan jika kau salah membalik apalagi membaca penyesalan dan ratapan adalah senantiasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ernesto &quot;Che&quot; Guevara, kawanku, jangan kau pedulikan ajaran tentang cinta jika masih ada manusia yang didera dahaga jangan kau pelajari arti tentang jiwa jika masih ada manusia yang saling menghamba sesama jangan kau sentuh sebuahpun dari berpuluh macam manifesto jika hatimu masih tak percaya adanya Sang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Revolusi dari jauh, Fiedel Castro, Kawan seperjuangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah puisi fiksi, yang tidak bakal pernah termuat.</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2005 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2005-06-14T13:08:11Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/718344/">
    <title>Tikus dan keberadaan dapur.</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/718344/</link>
    <description>oleh: kisapujagat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir-akhir ini dapur saya mendapatkan penjaga baru,&lt;br /&gt;
bukan penjaga yang rajin membersihkan dapur, atau ahli dalam memasak makanan yang enak-enak, wah bisa bikin restoran padang di jerman kalo gitu, atau penjaga yang berjenis kelamin betina, beramput panjang, tertawa renyah, dan kaki tak kelihatan, bisa-bisa saya kabur dari sini secepat mungkin, karena saya termasuk orang nomor satu di kos-kosan ini yang tidak begitu suka dengan hal yang berbau tahayul alias gaib, dan itu juga bukan bidang ilmu study saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama saya berselisih dengan warga setempat disini, yang notabene dari berbagai daerah, kota, desa bahkan negara, dan juga lintas kepercayaan, yang notabene ada berbagai, itupun tak menghitung si bule yang mempunyai filosofi, bahwa hidup ini tak jauh dari formula satu, dengan pistop sebagai halte antaranya. Bukan masalah siapa yang menjaga atau apa yang dijaga, tapi masalahnya kadang tikus ini selalu membangunkan isi rumah, disaat kita sedang menikmati rasa nyaman kita di dinginnya musim seperti ini. Bukan pula menyangkut tikus ini suka dengan hal-hal yang berbau pedas, seperti lemari bumbu yang acap di grogotinya dan kadang si tikus selalu suka dengan bumbu merek tertentu yang masa kadaluarsanya masih sangat jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tikus ini kadang nyerobot seenaknya sendiri, nyerobot di ketenangan aktivitas para penghuni kos-kosan, makan seenaknya sendiri tanpa ada komando, atau suka hal yang macam-macam yang sifatnya bertindak kritis, berlagu di depan dapur, sembari mengompori suasana dapur yang memang agak sedikit hangat belakangan ini. Sudah tentu kadang membuat penghuni kos-kosan misah-misuh dengan kelakuannya, bahkan ada juga yang sempat menjerit kalap dan naik kemeja ketika berpapasan denganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pun yang kemarin-kemarin menjadi pemakai dapur umum ini, sebagai manusia biasa, yang tidak mau terjadi keributan, akhirnya mempunyai perasaan jijik kepada mahluk ini. Berterimakasihlah, karena kita-kita kemarin sudah mempercayakan pada hewan ini untuk berkeliaran di dapur kita, walaupun dengan catatan, tirulah sifat-sifat manusia penghuninya, yang karena catatan kecil ini lah, mestinya dia berpikir dia bisa tetap eksis di dapur saya yang bersih dan nyaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya awalnya percaya dengan kesetiannya, yang kadang tidak diragukan lagi, membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran ketika kita menggunakan dapur, moral dari kegiatan rutinnya, walaupun itu bisa kita anggap binatang kotor, tapi bisa kita artikan,&lt;br /&gt;
bahwa dia bisa melakukan komunikasi Turba, melihat kebawah, yang dalam rezim orde baru di agungkan sebagai pemerhati rakyat, alias mempunya jiwa besar bungkarno, slogan saat masa kejayaan presiden sukarno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tikus dengan jiwa yang kerdil ini, sebenarnya mahluk biasa yang tak mengenal kata-kata kejahatan, ataupun kata-kata kasar, bahkan dia pun sempat ber kromo inggil ria. Ia bukan tipe lempar batu sembunyi dompet, makan dan ngotorin dapur, bukan tipe yang menggerogoti apa saja, atau ngebongkar pondasi rumah.&lt;br /&gt;
Ia lebih bisa dibilang jenis rumahan yang kerjanya lebih suka individu, jarang saya temuin tikus semacam dia yang suka menyendiri, tau-tau keluar dari persembunyian, dan melahap  makanan kita, buka type semacam itu dia. Walau, betapa mulianya watak tikus ini, tapi saya tak bisa membuang dia dari dari daftar hewan tercela, karena perasaan jijay kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas itulah apa yang terjadi di dapur saya, yang membuat saya dan penghuni kos-kosan terancam berperang pendapat, tidak akur, dan berselisih paham. Bukan karena teman-teman saya disini mempunyai badan besar, dan termasuk dalam katagori yang naik meja disaat ketemu hewan ini, ia cuma tidak sangat mengerti tindakan rekannya, yang bisa dibilang pemakai dapur of the year yang terlalu elastis, selalu melindungi tikus ini dari bidikan jebakan, terlalu membiarkan dan selalu memberi peluang si tikus tetap dengan sifat tambeng nya itu. Jika mereka sudah mengomel, wah, layaknya ibu-ibu arisan yang siap dengan ceramahnya, pedas dan menghasut, dan akhirnya saya cuma sekedar pencundang saja, membantah tidak, akhirnya berpura-pura bingung jalan yang terbaik, dan mungkin ini juga demi keamanan tikus dan tetap jalannya sirklus dapur di rumah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengeluarkan tikus ini dari keorganisasian salah satu alat pelengkap rumah ini, memang bisa, tapi sapa yang mau ngurusinnya. Toh saya bisa saja seenaknya ngebunuh dengan tuduhan, telah mengotori dapur dan bertentangan dgn Hausordnung alias peraturan rumah nomor sekian pasal anu, selain itu begitulah nurani saya melarang tindakan saya itu, karena saya sudah memberi dia kesempatan berkreasi di dapur ini, dengan cara membiarkan dapur kotor setelah kita melakukan kegiatan memasak. Jika para penghuni rumah ini mengajak bertengkar soal kelakuan si tikus di dapur, saya pasti nekat dengan daya upaya saya untuk melawan mereka. Tapi, bukan berarti saya memberikan kesempatan kepada si dia, agar tidak memperhatikan kelakuannya, dan ceplas-ceplos sesuka hati. Terus ngapain ? bilang ke dia, untuk berhenti asal-asalan, menulis diatas kertas ditaroh di depan pintu dapur, dengan perkataan sopan, &quot;ojo dume, sing dumeh mate&amp;acute; &quot; (jangan berlagu loe, yang berlagu ntar mati).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah klimaks kebingungan saya sendiri, klimaks inilah yang saya rasakan tak terasa nikmatnya, karena pada akhirnya saya selalu mendapat ledekan, saya bukan cuma yang punya dapur, tapi yang punya tikus-tikus itu, seia dan sekata dengan si tikus. Amarah saya sudah ada di ubun-ubun, untung musim dingin, jadi derajat kepanasannya bisa diturunkan. Tapi, ledekan itu ternyata cuma omongan sekilas teman saya disini, itupun bisa meredam amarah nya mereka, biarlah. Sayapun akhirnya bisa meredam rasa panas itu, demi keutuhan ramah tamah warga disini juga warga dapur ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omelan yang datang tiap kali, ketika tikus sudah memasuki jam kerjanya, kian bertubi-tubi. Saya menghiburnya, kalo si tikus ini adalah mahluk ciptaan tuhan, toh suatu saat pasti ada manfaatnya. Seperti seorang pengkotbah, akhirnya saya bersikap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya saya sendiri takjub dengan omongan itu, saya tidak berniat untuk mulia dihadapan teman-teman warga padepokan rumah ini. Tapi, toh saya berharap supaya si tikus tidak menunjukan sikap berlagunya, karena warga dapur ini selalu saja panas dan bisa dikomandai untuk mengepung bahkan memanggang tubuh kecilnya dia, dengan sambal ulek, terasi dan rempah-rempah.</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2005 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2005-05-25T14:16:52Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/688419/">
    <title>Marno saking ponorogo*</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/688419/</link>
    <description>sumarno nama di akte kelahirannya...&lt;br /&gt;
bapak jawa emak sunda, &lt;br /&gt;
baru datang di jerman, biar pinter kata bapak nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marno enak di ajak ngobrol sosial&lt;br /&gt;
buku agama di belah, serial kho ping ho di suka&lt;br /&gt;
Cerita brutus sampe servetus tau, &lt;br /&gt;
tapi itu semua tak membuat marno belagu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marno seasrama dengan jeki cowok metropolitan&lt;br /&gt;
jeki keturunan orang bergengsi &lt;br /&gt;
katanya sih ilmu yang dicari &lt;br /&gt;
tapi, malah hobby melobby&lt;br /&gt;
entah wanita, cewek atau perempeye&lt;br /&gt;
Dia terlalu bersih, rapih dan pasang aksi&lt;br /&gt;
Sedangkan marno, ah, lebih ancur dari ku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintas kamar, bau parfum membahana&lt;br /&gt;
dentingan musik klasik mengayun merdu&lt;br /&gt;
dilengkapi tivi flat nempel di dinding&lt;br /&gt;
tiap malam film di puter di dividi &lt;br /&gt;
Tapi, ternyata, semuanya dari kamar si jeki, &lt;br /&gt;
jeki kaya dan mempesona, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
makanya mungkin aku tak suka jeki&lt;br /&gt;
Mangkanya marno lebih aku suka&lt;br /&gt;
karena dia lebih sederhana dan mawas diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marno dan Jeki, bertahan delapan tahun &lt;br /&gt;
jeki bilang, bisnis bokapnya mesti diurus&lt;br /&gt;
marno tersenyum lega, ketika sidangnya sudah lulus&lt;br /&gt;
Laen ladang, laen alasan buat pulang kampung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10 Tahun hilang berita dari keduanya &lt;br /&gt;
ketemu di stasiun jatinegara, lagi duduk di ruang ber AC&lt;br /&gt;
Marno ngasih kartu nama, dilanjutin seminggu kemudian makan malam di hilton, nawarin kerjaan kepala logistik&lt;br /&gt;
sekalian ngawasin kerjanya jeki, katanya. &lt;br /&gt;
Aku pun melongo, memang dunia selalu berputar.&lt;br /&gt;
Tersenyum renyah si marno, &lt;br /&gt;
Metropolitan tidak lebih kaya dari ponorogo, rupanya. &lt;br /&gt;
Mestinya aku tidak belajar ke jerman &lt;br /&gt;
tapi cukuplah ke ponorogo. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisapujagat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Marno dari ponorogo</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2005 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2005-05-12T21:38:26Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/687457/">
    <title>Kepergian</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/687457/</link>
    <description>&lt;img style=&quot;float:left;border:solid 1px silver;padding:5px;margin-right:10px;&quot;  src=&quot;http://peterkaminski.com/photos/kaminski-sunset-20031017-200.jpg&quot; width=200 height=150 border=0&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari teramat pagi setelah lamat-lamat setengah enam menendangkan kicaunya. Hari disisingkan, tebaran lampu saat pagi awal semi mulai dimatikan. Kuantarkan kau pagi ini, kembali ke tempat dimana asa segera di tancapkan, lalu secarik bait-bait kerinduan kan di ukir. Sekaligus, sebuah kata duka cita pada sebuah perjalanan seorang ibu dari rekan yang selalu memandang sebuah kegalauan, tak kan layak di publikasikan. &lt;br /&gt;
Sejujurnya tulisan ini baru saja tumbuh, setelah arti dari sebuah perjalanan terjawab dengan sebuah pertanyaan, apalah arti hidup ini. Kala seorang  individu tak mengenal Haut Farbe, bentuk anatomi, dan kepercayaan meninggalkan kita semua-semesta, kembali ke tempat yang paling layak, sekaligus diterima dengan hati lapang dada, dan tak mengenal sebuah dimensi kubus dan jam pasir. Perjalanan hidup yang dilakukan tak pernah mengenal istirahat, dan melewati garis-garis kepedihan, nanah dan darah serta ribuan cambukan pada merahnya hati. &lt;br /&gt;
Jiwa seorang ibu dari seorang teman, feminisme yang bisa merubah seorang Hitler bersimbuh pada eva braun, Dedes yang mematahkan otot kawatnya arok. Bahkan sosok Ibu di lukiskan oleh virgiawan listyanto, profil yang tak pernah jera menapaki jiwa sunyi, kepedihan adalah makanan sehari-hari. Salah, bila ini disebut sebuah bentuk pengajaran untuk melebarkan arti seorang ibu, atau emak, biasa saya memanggilnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;pekuburan cimahi, bandung april 2005, &lt;br /&gt;
Sejahtera ya Emak&apos;.&lt;br /&gt;
anak yang sering engkau tidak kenali lagi ini hanya bisa menggapai nisan dengan tulisan..&quot;Disini Dikuburkan....&quot; padahal sering banyak waktu kau sisakan untuk aku, salah satu anakmu. Beratus-ratus tumpuk kepingan harap telah kau susun putih, biru, putih, biru warna-warna surga dari do&apos;a-do&apos;a ikhlasmu tidak bisa mempertemukan kita di kubah sempit dan berdebu ini. - Sejahtera ya Emak&apos; sekarang aku sedang bertamu di kuburmu, tak usah kau suguhkan kembali cerita tentang pengorbanan dari detik ke tahun milikmu ketika rasa kasih sayang seorang Emak&apos; tidak bisa dinikmati lagi adalah semesta luka dan puluhan karma yang mendera tanpa-habis-habisnya lumpuh, lunglai dan layu ...aku rindu engkau ya Emak&apos; - Sejahtera ya Emak&apos; kemboja, rumput dan awan-awan teman penantianmu, telah mewartakan, kau selalu tersenyum disini menunggu hari pengumpulan semua benda bergerak bernyawa ataupun semua yang melata, tanah merah ini kan kubawa kubuat arca bukan wajahmu tapi kerinduanku. &lt;br /&gt;
sajak seorang penyair, yang masih terus dalam tahap belajar.&lt;br /&gt;
---------------------------- &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan semuanya telah pergi, meninggalkan sebuah sketsa kehidupan yang mesti dilengkapi, di tarik garis tebal, dan membentuknya menjati sebuah kenyataan. Pun, sebuah kepergian seorang teman, sahabat.&lt;br /&gt;
Sesuatu yang masih terselip dalam hati, semoga menjadi sebuah nasehat, saran atau tombo ati. Semoga perjalanan baru mu menjadi sesuatu yang indah, dan gampang di arungi, tapi, sebelumnya saya hendak bertanya, apa sih sebetulnya perjalanan hidup itu ? sebuah perjalanan yang di gambarkan dengan titik titik hitam, lalu kita menekuninya titik demi titik, hingga pada akhirnya rampung menjadi satu garis lurus ?&lt;br /&gt;
Sejujurnya, saya bangga melihat sebuah titel yang bergelimpangan di panggul oleh setiap kelulusan disini, oleh orang kita, tapi lebih bangga lagi, bila semua itu kita abdikan pada bangsa kita sendiri, bangsa indonesia. &lt;br /&gt;
Kututurkan jiwa kebanggan ini, setelah melihat banyaknya mereka yang tetap mau mengabdi arogansi aria, tapi dengan lantang kalian berucap, siapa lagi yang akan membangun indonesia, kalo bukan anak-anak manusia seperti kita ini, bangga ucapku sekali lagi. &lt;br /&gt;
Tersentak, lamunanku, seorang asep berkata, &quot; nu penting pengabdian, mun laenna mah egal&quot;, ternyata kearoganan aria, sombongnya modernisasi, belumlah mengelupas individu-individu kita disini. Mungkin ini bisa menyentak mereka-mereka pemadat kerja serta pengagum tekhnologi, dengan selalu melihat eropa menjadi Koenigreich der Himmel. &lt;br /&gt;
Aku bergumam, teman, terimakasih kepergian mu mengisyaratkan seorang cita dari anak bangsa untuk kembali ke tanah air sangatlah berpahala, walau itu hanya sebuah niat. &lt;br /&gt;
Tebarkan hal-hal ini, niat baik mu slalu melihat asa di balik reruntuhan bekas krisis ekonomi yang berkepanjangan, vonisi mereka semua dengan kata-kata pemuja mata uang euro, hakimi dengan non nasionalisme, maaf bila aku terlalu banyak mengajari, karena melihat tanah air ditinggalkan, sama halnya dengan melihat kerentaan an seorang nenek tua yang di lecehkan. &lt;br /&gt;
Dari beberapa buku sejarah yang pernah saya bilah-bilah halamannya, semuanya mengajarkan apa arti sebuah kata membangun negara, selain agama dan bangsa. Disana rasa nasionalisme selalu dikumandangkan, patriotik di hembuskan dan jiwa mencintai nusantara sebagian dari iman ada pada tiap-tiap hela nafas. &lt;br /&gt;
Sahabat, hari bertambah dingin, walaupun Rabu ini mestinya sudah diberitakan cuaca hingga 15 derajat, semoga bait-bait ini menjadi doa, selain wejangan yang berupa kebanggaan bahwa, indonesia membutuhkan seorang seperti kamu, bila ada kata kekecewaan di tempo dulu akan negara koyak ini, maafkan lah, sekarang kau pergi dengan modal ada di bahu kiri kanan, melangkah maju, sebab 1000 langkah disekeliling mu ada lah daerah kekuasaanmu, begitulah kata seorang filosofi cina, Lu Hsun. &lt;br /&gt;
Selamat tinggal, dan semoga ombak cobaan di tanah air menjadi suatu tantangan baru dikehidupan seberang kelak.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didedikasikan untuk mereka yang telah kembali ke tanah air dan seorang Adang yang baru saja ditinggalkan oleh seorang ibunda tercinta. Di saat kepergian dan kehilangan melingkupi kehidupan kita, disaat itu kerinduan perkawanan semakin erat.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih untuk persahabatan yang hangat.</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2005 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2005-05-12T15:04:57Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/486682/">
    <title>Kerinduan mengkristal di Forstweg, Freiberg.</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/486682/</link>
    <description>&lt;img width=&quot;400&quot; height=&quot;264&quot; title=&quot;&quot; src=&quot;http://twoday.net/static/jagat/images/salju2.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Forstweg di Freiberg, ramai dengan lalu lalang  kendaraan, anak-anak sekolah, ibu-ibu pergi berbelanja, lalu ketika salju turun, penuh dgn putih kapas salju yang menutupi hampir seluruh badan jalan, halaman rumah dan kebun, suasana menjadi merindu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terimakasih kepada joey, yang menemani kerinduan ini tuk mencari putihnya kristal salju.</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2005 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2005-01-25T01:38:22Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/486678/">
    <title>Jalani hidup</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/486678/</link>
    <description>&lt;img width=&quot;458&quot; height=&quot;617&quot; title=&quot;Gambar ini diambil ketika seorang gadis yang menjalani hidup di perantauan sedang melakukan perjalanan menuju tempat menimba ilmu, lalu aku menghadangnya di tengah jalan. &lt;br /&gt;
tadinya terlintas melakukan satu dua kata perkenalan, tapi mungkin dia sibuk memikirkan, bahwa hidup ini selicin jalan bersalju, putih, jernih tapi perlu kehati-hatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buat joey, yang sekarang menjadi belahan hati ku.&quot; src=&quot;http://twoday.net/static/jagat/images/jalani hidup.jpg&quot; alt=&quot;Gambar ini diambil ketika seorang gadis yang menjalani hidup di perantauan sedang melakukan perjalanan menuju tempat menimba ilmu, lalu aku menghadangnya di tengah jalan. &lt;br /&gt;
tadinya terlintas melakukan satu dua kata perkenalan, tapi mungkin dia sibuk memikirkan, bahwa hidup ini selicin jalan bersalju, putih, jernih tapi perlu kehati-hatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buat joey, yang sekarang menjadi belahan hati ku.&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambar ini diambil ketika seorang gadis yang menjalani hidup di perantauan sedang melakukan perjalanan menuju tempat menimba ilmu, lalu aku menghadangnya di tengah jalan. tadinya terlintas melakukan satu dua kata perkenalan, tapi mungkin dia sibuk memikirkan, bahwa hidup ini selicin jalan bersalju, putih, jernih tapi perlu kehati-hatian. Buat joey, yang sekarang menjadi belahan hati ku.</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2005 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2005-01-25T01:24:24Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452960/">
    <title>merindukanmu dari jauh</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452960/</link>
    <description>sisa malam yang kau tinggalkan berubah menjadi&lt;br /&gt;
rona pelangi kehidupan pagi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah kau bercerita hitam putihnya hidup&lt;br /&gt;
dan sisa airmata yang mengkristal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sunyi hati merupakan pergantian dari nya&lt;br /&gt;
yang menjadi aliran darah dalam tubuh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sambangi sungai mu dengan kelegaan hati&lt;br /&gt;
dan kepekaan jiwa&lt;br /&gt;
kan ku guratkan kesabaran pada kanvas masa depan&lt;br /&gt;
hingga semua yang bernama luka&lt;br /&gt;
menjelma menjadi singgungan senyum pada gelapnya malam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat kulumat semua duka yang menghiasi raut mukamu&lt;br /&gt;
dengan gairah kerinduan akan sebuah kasih&lt;br /&gt;
dan kuhabiskan jejak hidup ini dengan sebuah prasasti hati&lt;br /&gt;
bahwa aku akan terus ada di pelupuk, kulit dan hati mu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cologne, Saturday, December 25, 2004</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:29:45Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452959/">
    <title>keajaiban &quot;bunga-bunga&quot; musim dingin</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452959/</link>
    <description>ketika salju berterbaran merambah bumi&lt;br /&gt;
dia mengenal kembali arti kata cinta&lt;br /&gt;
dan membawakan nya ke belahan bumi lainnya&lt;br /&gt;
lalu dia tebarkan &lt;i&gt;bunga-bunga&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt; disaat musim dingin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dia bercumbu dengan kehangatan alam winter&lt;br /&gt;
menari sesaat bersama derasnya hujan yang meredakan&lt;br /&gt;
dinginnya bumi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat ini dia tersenyum ketika uluran tangan datang&lt;br /&gt;
dan merengkuhnya erat tak akan dilepaskan&lt;br /&gt;
aku kan datang menyambangi mu&lt;br /&gt;
seperti hari-hari berganti sesuai dengan jalurnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua pekan bukan waktu yg sedikit&lt;br /&gt;
saat matahari bergerak dari jendela kamarnya&lt;br /&gt;
dan riuh kereta paling pagi menyambangi nya&lt;br /&gt;
tanda bahwa hari mulai di tuntaskan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
waktu terus merambat menandakan umur manusia semakin surut&lt;br /&gt;
dua kali tidur malamnya lagi dia akan datang&lt;br /&gt;
membawa semua rangkaian bunga-bunga kasih sayang&lt;br /&gt;
diceritakan kembali masa lalu yang penuh rona warna hidup&lt;br /&gt;
aku akan slalu ada disini membelai rambut hitam mu&lt;br /&gt;
mematikan rasa kegelisahan hidup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
malam ini saat bintang-bintang pergi meninggalkan&lt;br /&gt;
ia menebarkan lagi &lt;i&gt;bunga-bunga&lt;/i&gt; musim dingin&lt;br /&gt;
menunggu hingga jingga ada di horizon&lt;br /&gt;
karena melewati malam bersamanya&lt;br /&gt;
seakan menggeluti samudra kasih yang tak terhingga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
malam musim dingin tak lagi penuh dengan onak hidup&lt;br /&gt;
keheningan malam tergantikan dengan senyuman harapan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jangan kau tinggalkan malam ini tanpa bayangmu&lt;br /&gt;
kau sapa pagi hanya untukku&lt;br /&gt;
kupersembahkan purnama lima belasan ini hanya untukmu&lt;br /&gt;
karena seribu luka yang kau ceritakan&lt;br /&gt;
hanyalah patut untuk dikubur&lt;br /&gt;
dan diganti dengan harapan-harapan&lt;br /&gt;
yang akan aku fragmen nyataka kan bersamamu nanti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bantu ini semua menjadi sebuah perwujudan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untuk yang tercinta joewardhani&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cologne&amp;acute;24 desember 2004</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:28:51Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452958/">
    <title>di sudut hatiku...</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452958/</link>
    <description>kreta paling shubuh baru lalu depan kamarku&lt;br /&gt;
dan sampai detik ini aku tak kuasa menutup mata&lt;br /&gt;
padahal tubuh ini sangat butuh istirahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu kuresapi setiap bincang kita yang hampir selalu sampai pagi&lt;br /&gt;
rasanya campur aduk antara senang, bingung dan resah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
oh Tuhanku yang Maha membolak balikan hati,&lt;br /&gt;
janganlah Kau cabut perasaan indah ini dari jiwa&lt;br /&gt;
peliharalah ia dalam kebun surgaMu&lt;br /&gt;
jagalah ia selalu dalam setiap lafas dzikirku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pelita pun aku padamkan,&lt;br /&gt;
yang akhirnya lelapkanku dalam remang lampu jalanan&lt;br /&gt;
esok, ku ingin sambut hari baru,&lt;br /&gt;
dengan bayang sosokmu di sudut hatiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(4 malam menjelang langit Cologne, 22 Desember 04)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wednesday, December 22, 2004</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:27:28Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452957/">
    <title>clear horizon...</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452957/</link>
    <description>look around - it&apos;s almost summer&lt;br /&gt;
yet there&apos;s winter in her heart&lt;br /&gt;
you could never love another&lt;br /&gt;
still, can your fire melt her ice...&lt;br /&gt;
can your fire melt her ice&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seasons change, you cry in silence&lt;br /&gt;
for the love you cannot live without&lt;br /&gt;
you&apos;ve done your best, you tried your hardest&lt;br /&gt;
the time has come, be strong, give it up&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
all you need is a clear horizon,&lt;br /&gt;
a clear horizon&lt;br /&gt;
all we wish is everyday,&lt;br /&gt;
hope and pray,&lt;br /&gt;
for all of us&lt;br /&gt;
a clear and quiet sky&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
the darkest night is slowly fading&lt;br /&gt;
and the sun will come out to blind your eyes&lt;br /&gt;
could it be a new beginning?&lt;br /&gt;
trust yourself - you&apos;re an angel, you can fly&lt;br /&gt;
trust yourself - you&apos;re an angel, you can&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
all we need is a clear horizon... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Freiberg, Tuesday, December 21, 2004</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:26:47Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452955/">
    <title>tak lama lagi...</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452955/</link>
    <description>saat deringan telpon jadi berarti&lt;br /&gt;
kutunggu sampai ia menjerit&lt;br /&gt;
mungkin tak lama lagi...&lt;br /&gt;
mungkin tak ada...&lt;br /&gt;
mungkin besok atau nanti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat messenger jadi berarti&lt;br /&gt;
kutunggu sampai ai di mu muncul&lt;br /&gt;
mungkin tak lama lagi...&lt;br /&gt;
mungkin tak ada...&lt;br /&gt;
mungkin besok atau nanti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat rasa kuatir jadi berarti&lt;br /&gt;
kubiarkan saja sampai hari ini berakhir&lt;br /&gt;
mungkin tak lama lagi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
joe wardhani,Monday, December 20, 2004</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:25:43Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452954/">
    <title>Freiberger Weinachtmarkt</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452954/</link>
    <description>&lt;img width=&quot;400&quot; height=&quot;267&quot; title=&quot;&quot; src=&quot;http://twoday.net/static/jagat/images/freiberger_weinachtmarkt.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di perjalanan Joe pulang ke rumah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
joe wardhani&lt;br /&gt;
Saturday, December 18, 2004</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:24:32Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452952/">
    <title>Pada sebuah lukisan winter</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452952/</link>
    <description>dingin mengkatupkan kerahnya&lt;br /&gt;
hanya untuk mereka yg berani dalam sepi&lt;br /&gt;
mengumpulkan semua derita&lt;br /&gt;
dan kesedihan dalam tungku kegigihan&lt;br /&gt;
yang akhirnya bermetamorfosa menjadi&lt;br /&gt;
seorang berpikiran jernih dan bijak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenangan akan masa lampau merupakan sebuah sejarah&lt;br /&gt;
yg hanya patut untuk di peras manfaatnya&lt;br /&gt;
dan tanpa berani membuka lagi lembaran yang sama&lt;br /&gt;
persaudaraan adalah semangat yang tak pernah padam&lt;br /&gt;
karenanya semua yg bernama ketakutan menjadi keberanian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kecemburuan lah datang, disaat tiap lembar cerita&lt;br /&gt;
mengapa tidak kau ambil sebuah jalan menapak yang cukup jelas&lt;br /&gt;
mencapai sebuah persinggahan sana&lt;br /&gt;
tapi terlalu banyak berpikir akan arti sebuah getaran jiwa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berhentilah untuk terus berjalan dalam ruangan labirin&lt;br /&gt;
yang bisa menyesatkan sampai jauh dari tujuan awal&lt;br /&gt;
akhirnya setia menunggu untuk di sambangin&lt;br /&gt;
dan andai musim dingin ini cepat berganti&lt;br /&gt;
akan ternyatakan bawah hidup&lt;br /&gt;
membutuhkan sebuah tenaga tambahan&lt;br /&gt;
untuk menapaki jalan ke persinggahan akhir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tak akan terlesatkan kata cinta&lt;br /&gt;
bila cita ini masih ada di awang-awang suargaloka&lt;br /&gt;
hanya permadani aladin yang mampu menerbangkan kesana&lt;br /&gt;
atau kekuatan akan akal pikiran&lt;br /&gt;
sebagai mahligai didepan para begawan&lt;br /&gt;
agar mereka yakin siapa nanti yang akan bersanding&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu cerita seperti di pewayangan,&lt;br /&gt;
insan tuhan di bagian lain sedang mendalang&lt;br /&gt;
mencoba untuk menyingkirkan secawan anggur digenggaman&lt;br /&gt;
dan mengubahnya menjadi aliran sungai rhein yang pasang&lt;br /&gt;
kita tidak akan bersatu,&lt;br /&gt;
sembari bathin ini menghangatkan tangannya&lt;br /&gt;
karena jalan ini pernah dilalui dan terlalu banyak aral&lt;br /&gt;
di ujung persinggahan sana&lt;br /&gt;
semoga semuanya tidak berakhir dengan perseturuan ucapku&lt;br /&gt;
karena, dalam hitungan purnama kau sudah menapaki tanah baru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan yang berjalan di dalam ruangan labirin&lt;br /&gt;
kau hadirkan pilihan dua sisi uang logam&lt;br /&gt;
antara ya atau diam&lt;br /&gt;
lebih memilih untuk datang disambangin&lt;br /&gt;
ini adalah sebuah pergolakan seperti dipadang kurusetra&lt;br /&gt;
bahwa kita terlampau jengah dengan kesendirian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kan kuguratkan sebuah prasasti hati&lt;br /&gt;
kan kusudahi sebuah sintesa perjalanan ini&lt;br /&gt;
kan ku sambangi dengan sayap-sayap rajawali&lt;br /&gt;
sembari ku persembahkan sebuah melodiku sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untukmu joe wardhani&lt;br /&gt;
cologne, 17 desember 04</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:21:29Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452950/">
    <title>sepinya...</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452950/</link>
    <description>Freiberg sepi, Yat...&lt;br /&gt;
Gak kayak K&amp;ouml;ln yang penuh dengan mahasiswa dan selalu rame dikunjungi turis&lt;br /&gt;
Disini hari biasa aja gak banyak liat orang&lt;br /&gt;
Mau liat kerumunan ya ke Weinachtsmarkt aja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini busnya 30 menit sekali&lt;br /&gt;
es lohnt sich nicht buat jadi sarana transportasi&lt;br /&gt;
cukup ngandelin ferari butut udah bisa keliling Freiberg&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini kalo udah gelap asli kayak kota mati&lt;br /&gt;
Bikin syerem kalo di luar sendirian&lt;br /&gt;
Tapi aman sih, aman-aman aja&lt;br /&gt;
Namanya juga bekas preman, cuman kota kecil beginian sih bukan masalah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, begini ni deh kalo sudah menjelang malam&lt;br /&gt;
Balik ke rumah masing masing&lt;br /&gt;
Nonton film, nongkrong depan komputer atau belajar&lt;br /&gt;
Telpon Jeng Titis mah jatah tiap malem&lt;br /&gt;
Kalo beruntung ya ktemu temen lama di messenger terus ngobrol&lt;br /&gt;
Kalo enggak ya ke dapur, masak atau bikin kue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedengerannya bosen ya?&lt;br /&gt;
Iya sih, tapi ini bagus buat orang bertapa&lt;br /&gt;
Tapi bertapanya gak mau lama-lama ah, taun depan mau turun gunung&lt;br /&gt;
Mau liat dunia lagi&lt;br /&gt;
Mau liat orang orang lagi&lt;br /&gt;
Mau jadi bagian dari denyut kesibukan&lt;br /&gt;
Artinya??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saatnya pulang ke tanah air tercinta kalau semua kewajiban pada ilmu sudah rampung...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
joe Wardhani</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:18:56Z</dc:date>
  </item> 
  <item rdf:about="http://jagat.twoday.net/stories/452949/">
    <title>a beginning...</title> 
    <link>http://jagat.twoday.net/stories/452949/</link>
    <description>kau sapa aku dalam tapaku&lt;br /&gt;
dan ku pun jabat hangat perkenalan kita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;semoga perkenalan ini bisa membawa kita ke persahabatan di alam nyata&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
begitu pesan pertamamu di halaman elektronik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan setelahnya jutaan karakter digital wakili segala diskusi&lt;br /&gt;
tentang orang-orang terdekat, tentang impian, tentang cinta, tentang hidup...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
betahnya kita ngobrol sampai pagi&lt;br /&gt;
rasanya seperti ketemu teman lama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
senangnya berbagi denganmu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
joe Wardhani, &lt;br /&gt;
Friday, December 17, 2004</description>
    <dc:creator>jagat</dc:creator>
    
    <dc:rights>Copyright &#169; 2004 jagat</dc:rights>
    <dc:date>2004-12-26T15:16:33Z</dc:date>
  </item> 


<textinput rdf:about="http://jagat.twoday.net/search">
   <title>find</title>
   <description>Search this site:</description>
   <name>q</name>
   <link>http://jagat.twoday.net/search</link>
</textinput>


</rdf:RDF>
