Campus
Cologne Germany
Essei
Occupation
Pictures
Profile
Profil
Abmelden
Weblog abonnieren
kehidupan berjalan dg semestinya

 


Hari teramat pagi setelah lamat-lamat setengah enam menendangkan kicaunya. Hari disisingkan, tebaran lampu saat pagi awal semi mulai dimatikan. Kuantarkan kau pagi ini, kembali ke tempat dimana asa segera di tancapkan, lalu secarik bait-bait kerinduan kan di ukir. Sekaligus, sebuah kata duka cita pada sebuah perjalanan seorang ibu dari rekan yang selalu memandang sebuah kegalauan, tak kan layak di publikasikan.
Sejujurnya tulisan ini baru saja tumbuh, setelah arti dari sebuah perjalanan terjawab dengan sebuah pertanyaan, apalah arti hidup ini. Kala seorang individu tak mengenal Haut Farbe, bentuk anatomi, dan kepercayaan meninggalkan kita semua-semesta, kembali ke tempat yang paling layak, sekaligus diterima dengan hati lapang dada, dan tak mengenal sebuah dimensi kubus dan jam pasir. Perjalanan hidup yang dilakukan tak pernah mengenal istirahat, dan melewati garis-garis kepedihan, nanah dan darah serta ribuan cambukan pada merahnya hati.
Jiwa seorang ibu dari seorang teman, feminisme yang bisa merubah seorang Hitler bersimbuh pada eva braun, Dedes yang mematahkan otot kawatnya arok. Bahkan sosok Ibu di lukiskan oleh virgiawan listyanto, profil yang tak pernah jera menapaki jiwa sunyi, kepedihan adalah makanan sehari-hari. Salah, bila ini disebut sebuah bentuk pengajaran untuk melebarkan arti seorang ibu, atau emak, biasa saya memanggilnya.

"pekuburan cimahi, bandung april 2005,
Sejahtera ya Emak'.
anak yang sering engkau tidak kenali lagi ini hanya bisa menggapai nisan dengan tulisan.."Disini Dikuburkan...." padahal sering banyak waktu kau sisakan untuk aku, salah satu anakmu. Beratus-ratus tumpuk kepingan harap telah kau susun putih, biru, putih, biru warna-warna surga dari do'a-do'a ikhlasmu tidak bisa mempertemukan kita di kubah sempit dan berdebu ini. - Sejahtera ya Emak' sekarang aku sedang bertamu di kuburmu, tak usah kau suguhkan kembali cerita tentang pengorbanan dari detik ke tahun milikmu ketika rasa kasih sayang seorang Emak' tidak bisa dinikmati lagi adalah semesta luka dan puluhan karma yang mendera tanpa-habis-habisnya lumpuh, lunglai dan layu ...aku rindu engkau ya Emak' - Sejahtera ya Emak' kemboja, rumput dan awan-awan teman penantianmu, telah mewartakan, kau selalu tersenyum disini menunggu hari pengumpulan semua benda bergerak bernyawa ataupun semua yang melata, tanah merah ini kan kubawa kubuat arca bukan wajahmu tapi kerinduanku.
sajak seorang penyair, yang masih terus dalam tahap belajar.
----------------------------

Dan semuanya telah pergi, meninggalkan sebuah sketsa kehidupan yang mesti dilengkapi, di tarik garis tebal, dan membentuknya menjati sebuah kenyataan. Pun, sebuah kepergian seorang teman, sahabat.
Sesuatu yang masih terselip dalam hati, semoga menjadi sebuah nasehat, saran atau tombo ati. Semoga perjalanan baru mu menjadi sesuatu yang indah, dan gampang di arungi, tapi, sebelumnya saya hendak bertanya, apa sih sebetulnya perjalanan hidup itu ? sebuah perjalanan yang di gambarkan dengan titik titik hitam, lalu kita menekuninya titik demi titik, hingga pada akhirnya rampung menjadi satu garis lurus ?
Sejujurnya, saya bangga melihat sebuah titel yang bergelimpangan di panggul oleh setiap kelulusan disini, oleh orang kita, tapi lebih bangga lagi, bila semua itu kita abdikan pada bangsa kita sendiri, bangsa indonesia.
Kututurkan jiwa kebanggan ini, setelah melihat banyaknya mereka yang tetap mau mengabdi arogansi aria, tapi dengan lantang kalian berucap, siapa lagi yang akan membangun indonesia, kalo bukan anak-anak manusia seperti kita ini, bangga ucapku sekali lagi.
Tersentak, lamunanku, seorang asep berkata, " nu penting pengabdian, mun laenna mah egal", ternyata kearoganan aria, sombongnya modernisasi, belumlah mengelupas individu-individu kita disini. Mungkin ini bisa menyentak mereka-mereka pemadat kerja serta pengagum tekhnologi, dengan selalu melihat eropa menjadi Koenigreich der Himmel.
Aku bergumam, teman, terimakasih kepergian mu mengisyaratkan seorang cita dari anak bangsa untuk kembali ke tanah air sangatlah berpahala, walau itu hanya sebuah niat.
Tebarkan hal-hal ini, niat baik mu slalu melihat asa di balik reruntuhan bekas krisis ekonomi yang berkepanjangan, vonisi mereka semua dengan kata-kata pemuja mata uang euro, hakimi dengan non nasionalisme, maaf bila aku terlalu banyak mengajari, karena melihat tanah air ditinggalkan, sama halnya dengan melihat kerentaan an seorang nenek tua yang di lecehkan.
Dari beberapa buku sejarah yang pernah saya bilah-bilah halamannya, semuanya mengajarkan apa arti sebuah kata membangun negara, selain agama dan bangsa. Disana rasa nasionalisme selalu dikumandangkan, patriotik di hembuskan dan jiwa mencintai nusantara sebagian dari iman ada pada tiap-tiap hela nafas.
Sahabat, hari bertambah dingin, walaupun Rabu ini mestinya sudah diberitakan cuaca hingga 15 derajat, semoga bait-bait ini menjadi doa, selain wejangan yang berupa kebanggaan bahwa, indonesia membutuhkan seorang seperti kamu, bila ada kata kekecewaan di tempo dulu akan negara koyak ini, maafkan lah, sekarang kau pergi dengan modal ada di bahu kiri kanan, melangkah maju, sebab 1000 langkah disekeliling mu ada lah daerah kekuasaanmu, begitulah kata seorang filosofi cina, Lu Hsun.
Selamat tinggal, dan semoga ombak cobaan di tanah air menjadi suatu tantangan baru dikehidupan seberang kelak.

Didedikasikan untuk mereka yang telah kembali ke tanah air dan seorang Adang yang baru saja ditinggalkan oleh seorang ibunda tercinta. Di saat kepergian dan kehilangan melingkupi kehidupan kita, disaat itu kerinduan perkawanan semakin erat.

Terima kasih untuk persahabatan yang hangat.
 

twoday.net AGB

xml version of this page

powered by Antville powered by Helma