oleh: kisapujagat
Akhir-akhir ini dapur saya mendapatkan penjaga baru,
bukan penjaga yang rajin membersihkan dapur, atau ahli dalam memasak makanan yang enak-enak, wah bisa bikin restoran padang di jerman kalo gitu, atau penjaga yang berjenis kelamin betina, beramput panjang, tertawa renyah, dan kaki tak kelihatan, bisa-bisa saya kabur dari sini secepat mungkin, karena saya termasuk orang nomor satu di kos-kosan ini yang tidak begitu suka dengan hal yang berbau tahayul alias gaib, dan itu juga bukan bidang ilmu study saya.
Lama saya berselisih dengan warga setempat disini, yang notabene dari berbagai daerah, kota, desa bahkan negara, dan juga lintas kepercayaan, yang notabene ada berbagai, itupun tak menghitung si bule yang mempunyai filosofi, bahwa hidup ini tak jauh dari formula satu, dengan pistop sebagai halte antaranya. Bukan masalah siapa yang menjaga atau apa yang dijaga, tapi masalahnya kadang tikus ini selalu membangunkan isi rumah, disaat kita sedang menikmati rasa nyaman kita di dinginnya musim seperti ini. Bukan pula menyangkut tikus ini suka dengan hal-hal yang berbau pedas, seperti lemari bumbu yang acap di grogotinya dan kadang si tikus selalu suka dengan bumbu merek tertentu yang masa kadaluarsanya masih sangat jauh.
Tikus ini kadang nyerobot seenaknya sendiri, nyerobot di ketenangan aktivitas para penghuni kos-kosan, makan seenaknya sendiri tanpa ada komando, atau suka hal yang macam-macam yang sifatnya bertindak kritis, berlagu di depan dapur, sembari mengompori suasana dapur yang memang agak sedikit hangat belakangan ini. Sudah tentu kadang membuat penghuni kos-kosan misah-misuh dengan kelakuannya, bahkan ada juga yang sempat menjerit kalap dan naik kemeja ketika berpapasan denganya.
Saya pun yang kemarin-kemarin menjadi pemakai dapur umum ini, sebagai manusia biasa, yang tidak mau terjadi keributan, akhirnya mempunyai perasaan jijik kepada mahluk ini. Berterimakasihlah, karena kita-kita kemarin sudah mempercayakan pada hewan ini untuk berkeliaran di dapur kita, walaupun dengan catatan, tirulah sifat-sifat manusia penghuninya, yang karena catatan kecil ini lah, mestinya dia berpikir dia bisa tetap eksis di dapur saya yang bersih dan nyaman ini.
Saya awalnya percaya dengan kesetiannya, yang kadang tidak diragukan lagi, membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran ketika kita menggunakan dapur, moral dari kegiatan rutinnya, walaupun itu bisa kita anggap binatang kotor, tapi bisa kita artikan,
bahwa dia bisa melakukan komunikasi Turba, melihat kebawah, yang dalam rezim orde baru di agungkan sebagai pemerhati rakyat, alias mempunya jiwa besar bungkarno, slogan saat masa kejayaan presiden sukarno.
Tikus dengan jiwa yang kerdil ini, sebenarnya mahluk biasa yang tak mengenal kata-kata kejahatan, ataupun kata-kata kasar, bahkan dia pun sempat ber kromo inggil ria. Ia bukan tipe lempar batu sembunyi dompet, makan dan ngotorin dapur, bukan tipe yang menggerogoti apa saja, atau ngebongkar pondasi rumah.
Ia lebih bisa dibilang jenis rumahan yang kerjanya lebih suka individu, jarang saya temuin tikus semacam dia yang suka menyendiri, tau-tau keluar dari persembunyian, dan melahap makanan kita, buka type semacam itu dia. Walau, betapa mulianya watak tikus ini, tapi saya tak bisa membuang dia dari dari daftar hewan tercela, karena perasaan jijay kepadanya.
Sekilas itulah apa yang terjadi di dapur saya, yang membuat saya dan penghuni kos-kosan terancam berperang pendapat, tidak akur, dan berselisih paham. Bukan karena teman-teman saya disini mempunyai badan besar, dan termasuk dalam katagori yang naik meja disaat ketemu hewan ini, ia cuma tidak sangat mengerti tindakan rekannya, yang bisa dibilang pemakai dapur of the year yang terlalu elastis, selalu melindungi tikus ini dari bidikan jebakan, terlalu membiarkan dan selalu memberi peluang si tikus tetap dengan sifat tambeng nya itu. Jika mereka sudah mengomel, wah, layaknya ibu-ibu arisan yang siap dengan ceramahnya, pedas dan menghasut, dan akhirnya saya cuma sekedar pencundang saja, membantah tidak, akhirnya berpura-pura bingung jalan yang terbaik, dan mungkin ini juga demi keamanan tikus dan tetap jalannya sirklus dapur di rumah ini.
Mengeluarkan tikus ini dari keorganisasian salah satu alat pelengkap rumah ini, memang bisa, tapi sapa yang mau ngurusinnya. Toh saya bisa saja seenaknya ngebunuh dengan tuduhan, telah mengotori dapur dan bertentangan dgn Hausordnung alias peraturan rumah nomor sekian pasal anu, selain itu begitulah nurani saya melarang tindakan saya itu, karena saya sudah memberi dia kesempatan berkreasi di dapur ini, dengan cara membiarkan dapur kotor setelah kita melakukan kegiatan memasak. Jika para penghuni rumah ini mengajak bertengkar soal kelakuan si tikus di dapur, saya pasti nekat dengan daya upaya saya untuk melawan mereka. Tapi, bukan berarti saya memberikan kesempatan kepada si dia, agar tidak memperhatikan kelakuannya, dan ceplas-ceplos sesuka hati. Terus ngapain ? bilang ke dia, untuk berhenti asal-asalan, menulis diatas kertas ditaroh di depan pintu dapur, dengan perkataan sopan, "ojo dume, sing dumeh mate´ " (jangan berlagu loe, yang berlagu ntar mati).
Inilah klimaks kebingungan saya sendiri, klimaks inilah yang saya rasakan tak terasa nikmatnya, karena pada akhirnya saya selalu mendapat ledekan, saya bukan cuma yang punya dapur, tapi yang punya tikus-tikus itu, seia dan sekata dengan si tikus. Amarah saya sudah ada di ubun-ubun, untung musim dingin, jadi derajat kepanasannya bisa diturunkan. Tapi, ledekan itu ternyata cuma omongan sekilas teman saya disini, itupun bisa meredam amarah nya mereka, biarlah. Sayapun akhirnya bisa meredam rasa panas itu, demi keutuhan ramah tamah warga disini juga warga dapur ini.
Omelan yang datang tiap kali, ketika tikus sudah memasuki jam kerjanya, kian bertubi-tubi. Saya menghiburnya, kalo si tikus ini adalah mahluk ciptaan tuhan, toh suatu saat pasti ada manfaatnya. Seperti seorang pengkotbah, akhirnya saya bersikap.
Sesungguhnya saya sendiri takjub dengan omongan itu, saya tidak berniat untuk mulia dihadapan teman-teman warga padepokan rumah ini. Tapi, toh saya berharap supaya si tikus tidak menunjukan sikap berlagunya, karena warga dapur ini selalu saja panas dan bisa dikomandai untuk mengepung bahkan memanggang tubuh kecilnya dia, dengan sambal ulek, terasi dan rempah-rempah.
Akhir-akhir ini dapur saya mendapatkan penjaga baru,
bukan penjaga yang rajin membersihkan dapur, atau ahli dalam memasak makanan yang enak-enak, wah bisa bikin restoran padang di jerman kalo gitu, atau penjaga yang berjenis kelamin betina, beramput panjang, tertawa renyah, dan kaki tak kelihatan, bisa-bisa saya kabur dari sini secepat mungkin, karena saya termasuk orang nomor satu di kos-kosan ini yang tidak begitu suka dengan hal yang berbau tahayul alias gaib, dan itu juga bukan bidang ilmu study saya.
Lama saya berselisih dengan warga setempat disini, yang notabene dari berbagai daerah, kota, desa bahkan negara, dan juga lintas kepercayaan, yang notabene ada berbagai, itupun tak menghitung si bule yang mempunyai filosofi, bahwa hidup ini tak jauh dari formula satu, dengan pistop sebagai halte antaranya. Bukan masalah siapa yang menjaga atau apa yang dijaga, tapi masalahnya kadang tikus ini selalu membangunkan isi rumah, disaat kita sedang menikmati rasa nyaman kita di dinginnya musim seperti ini. Bukan pula menyangkut tikus ini suka dengan hal-hal yang berbau pedas, seperti lemari bumbu yang acap di grogotinya dan kadang si tikus selalu suka dengan bumbu merek tertentu yang masa kadaluarsanya masih sangat jauh.
Tikus ini kadang nyerobot seenaknya sendiri, nyerobot di ketenangan aktivitas para penghuni kos-kosan, makan seenaknya sendiri tanpa ada komando, atau suka hal yang macam-macam yang sifatnya bertindak kritis, berlagu di depan dapur, sembari mengompori suasana dapur yang memang agak sedikit hangat belakangan ini. Sudah tentu kadang membuat penghuni kos-kosan misah-misuh dengan kelakuannya, bahkan ada juga yang sempat menjerit kalap dan naik kemeja ketika berpapasan denganya.
Saya pun yang kemarin-kemarin menjadi pemakai dapur umum ini, sebagai manusia biasa, yang tidak mau terjadi keributan, akhirnya mempunyai perasaan jijik kepada mahluk ini. Berterimakasihlah, karena kita-kita kemarin sudah mempercayakan pada hewan ini untuk berkeliaran di dapur kita, walaupun dengan catatan, tirulah sifat-sifat manusia penghuninya, yang karena catatan kecil ini lah, mestinya dia berpikir dia bisa tetap eksis di dapur saya yang bersih dan nyaman ini.
Saya awalnya percaya dengan kesetiannya, yang kadang tidak diragukan lagi, membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran ketika kita menggunakan dapur, moral dari kegiatan rutinnya, walaupun itu bisa kita anggap binatang kotor, tapi bisa kita artikan,
bahwa dia bisa melakukan komunikasi Turba, melihat kebawah, yang dalam rezim orde baru di agungkan sebagai pemerhati rakyat, alias mempunya jiwa besar bungkarno, slogan saat masa kejayaan presiden sukarno.
Tikus dengan jiwa yang kerdil ini, sebenarnya mahluk biasa yang tak mengenal kata-kata kejahatan, ataupun kata-kata kasar, bahkan dia pun sempat ber kromo inggil ria. Ia bukan tipe lempar batu sembunyi dompet, makan dan ngotorin dapur, bukan tipe yang menggerogoti apa saja, atau ngebongkar pondasi rumah.
Ia lebih bisa dibilang jenis rumahan yang kerjanya lebih suka individu, jarang saya temuin tikus semacam dia yang suka menyendiri, tau-tau keluar dari persembunyian, dan melahap makanan kita, buka type semacam itu dia. Walau, betapa mulianya watak tikus ini, tapi saya tak bisa membuang dia dari dari daftar hewan tercela, karena perasaan jijay kepadanya.
Sekilas itulah apa yang terjadi di dapur saya, yang membuat saya dan penghuni kos-kosan terancam berperang pendapat, tidak akur, dan berselisih paham. Bukan karena teman-teman saya disini mempunyai badan besar, dan termasuk dalam katagori yang naik meja disaat ketemu hewan ini, ia cuma tidak sangat mengerti tindakan rekannya, yang bisa dibilang pemakai dapur of the year yang terlalu elastis, selalu melindungi tikus ini dari bidikan jebakan, terlalu membiarkan dan selalu memberi peluang si tikus tetap dengan sifat tambeng nya itu. Jika mereka sudah mengomel, wah, layaknya ibu-ibu arisan yang siap dengan ceramahnya, pedas dan menghasut, dan akhirnya saya cuma sekedar pencundang saja, membantah tidak, akhirnya berpura-pura bingung jalan yang terbaik, dan mungkin ini juga demi keamanan tikus dan tetap jalannya sirklus dapur di rumah ini.
Mengeluarkan tikus ini dari keorganisasian salah satu alat pelengkap rumah ini, memang bisa, tapi sapa yang mau ngurusinnya. Toh saya bisa saja seenaknya ngebunuh dengan tuduhan, telah mengotori dapur dan bertentangan dgn Hausordnung alias peraturan rumah nomor sekian pasal anu, selain itu begitulah nurani saya melarang tindakan saya itu, karena saya sudah memberi dia kesempatan berkreasi di dapur ini, dengan cara membiarkan dapur kotor setelah kita melakukan kegiatan memasak. Jika para penghuni rumah ini mengajak bertengkar soal kelakuan si tikus di dapur, saya pasti nekat dengan daya upaya saya untuk melawan mereka. Tapi, bukan berarti saya memberikan kesempatan kepada si dia, agar tidak memperhatikan kelakuannya, dan ceplas-ceplos sesuka hati. Terus ngapain ? bilang ke dia, untuk berhenti asal-asalan, menulis diatas kertas ditaroh di depan pintu dapur, dengan perkataan sopan, "ojo dume, sing dumeh mate´ " (jangan berlagu loe, yang berlagu ntar mati).
Inilah klimaks kebingungan saya sendiri, klimaks inilah yang saya rasakan tak terasa nikmatnya, karena pada akhirnya saya selalu mendapat ledekan, saya bukan cuma yang punya dapur, tapi yang punya tikus-tikus itu, seia dan sekata dengan si tikus. Amarah saya sudah ada di ubun-ubun, untung musim dingin, jadi derajat kepanasannya bisa diturunkan. Tapi, ledekan itu ternyata cuma omongan sekilas teman saya disini, itupun bisa meredam amarah nya mereka, biarlah. Sayapun akhirnya bisa meredam rasa panas itu, demi keutuhan ramah tamah warga disini juga warga dapur ini.
Omelan yang datang tiap kali, ketika tikus sudah memasuki jam kerjanya, kian bertubi-tubi. Saya menghiburnya, kalo si tikus ini adalah mahluk ciptaan tuhan, toh suatu saat pasti ada manfaatnya. Seperti seorang pengkotbah, akhirnya saya bersikap.
Sesungguhnya saya sendiri takjub dengan omongan itu, saya tidak berniat untuk mulia dihadapan teman-teman warga padepokan rumah ini. Tapi, toh saya berharap supaya si tikus tidak menunjukan sikap berlagunya, karena warga dapur ini selalu saja panas dan bisa dikomandai untuk mengepung bahkan memanggang tubuh kecilnya dia, dengan sambal ulek, terasi dan rempah-rempah.
jagat - am Mittwoch, 25. Mai 2005, 16:16
Aleas meinte am 28. Jun, 09:03:
Pasti si tikus itu senang juga diajak omong...
