Oleh kisapujagat
Many will call me an adventurer - and that I am, only one of a different sort: one of those who risks his skin to prove his platitudes.
(1928-1967) Latin American Revolutionary
Ernesto "Che" Guevara, kehidupan dunia, kawan, kehidupan kutub Barat dan kutub Timur, kehidupan revolusi, kehidupan langit dan kehidupan bangsa kapitalis, apakah cukup panjang jika waktu itu kau juga jaga dari rasa bosan perjalanan dan keinginan untuk tetap bertahan pada tingginya tebing-tebing sunyi dan lebatnya hutan perjuangan, hentikan pertapaanmu manakala melihat manusia banyak yang begitu tidak menapak tanah, menepuk dada, memainkan pola pikir tuan tanah dan bayangannya menginjak anak-anak bangsa tanpa bapak, padahal kaki dan jasadnya menyetubuhi lapar sang janda.
Ernesto "Che" Guevara, kawanku, bertelanjang dada lah dibawah sinar matahari di pagi hari, sebab dia bersuka rela akan menunjukan dimana nista kita, pun kita sebagai pemimpin perjuangan revolusi, atau hanya kura-kura yang mengejewantah dan ingin di posisikan selalu sebagai pemimpin para pemimpin. Hidup, mati dan air adalah buku suci tiap kaca dan kata-kata nya adalah masa depan jika kau salah membalik apalagi membaca penyesalan dan ratapan adalah senantiasa.
Ernesto "Che" Guevara, kawanku, jangan kau pedulikan ajaran tentang cinta jika masih ada manusia yang didera dahaga jangan kau pelajari arti tentang jiwa jika masih ada manusia yang saling menghamba sesama jangan kau sentuh sebuahpun dari berpuluh macam manifesto jika hatimu masih tak percaya adanya Sang Maha Kuasa.
Salam Revolusi dari jauh, Fiedel Castro, Kawan seperjuangan.
Dalam sebuah puisi fiksi, yang tidak bakal pernah termuat.
Many will call me an adventurer - and that I am, only one of a different sort: one of those who risks his skin to prove his platitudes.
(1928-1967) Latin American Revolutionary
Ernesto "Che" Guevara, kehidupan dunia, kawan, kehidupan kutub Barat dan kutub Timur, kehidupan revolusi, kehidupan langit dan kehidupan bangsa kapitalis, apakah cukup panjang jika waktu itu kau juga jaga dari rasa bosan perjalanan dan keinginan untuk tetap bertahan pada tingginya tebing-tebing sunyi dan lebatnya hutan perjuangan, hentikan pertapaanmu manakala melihat manusia banyak yang begitu tidak menapak tanah, menepuk dada, memainkan pola pikir tuan tanah dan bayangannya menginjak anak-anak bangsa tanpa bapak, padahal kaki dan jasadnya menyetubuhi lapar sang janda.
Ernesto "Che" Guevara, kawanku, bertelanjang dada lah dibawah sinar matahari di pagi hari, sebab dia bersuka rela akan menunjukan dimana nista kita, pun kita sebagai pemimpin perjuangan revolusi, atau hanya kura-kura yang mengejewantah dan ingin di posisikan selalu sebagai pemimpin para pemimpin. Hidup, mati dan air adalah buku suci tiap kaca dan kata-kata nya adalah masa depan jika kau salah membalik apalagi membaca penyesalan dan ratapan adalah senantiasa.
Ernesto "Che" Guevara, kawanku, jangan kau pedulikan ajaran tentang cinta jika masih ada manusia yang didera dahaga jangan kau pelajari arti tentang jiwa jika masih ada manusia yang saling menghamba sesama jangan kau sentuh sebuahpun dari berpuluh macam manifesto jika hatimu masih tak percaya adanya Sang Maha Kuasa.
Salam Revolusi dari jauh, Fiedel Castro, Kawan seperjuangan.
Dalam sebuah puisi fiksi, yang tidak bakal pernah termuat.
jagat - am Dienstag, 14. Juni 2005, 15:08
noch kein Kommentar - Kommentar verfassen
oleh: kisapujagat
Akhir-akhir ini dapur saya mendapatkan penjaga baru,
bukan penjaga yang rajin membersihkan dapur, atau ahli dalam memasak makanan yang enak-enak, wah bisa bikin restoran padang di jerman kalo gitu, atau penjaga yang berjenis kelamin betina, beramput panjang, tertawa renyah, dan kaki tak kelihatan, bisa-bisa saya kabur dari sini secepat mungkin, karena saya termasuk orang nomor satu di kos-kosan ini yang tidak begitu suka dengan hal yang berbau tahayul alias gaib, dan itu juga bukan bidang ilmu study saya.
Lama saya berselisih dengan warga setempat disini, yang notabene dari berbagai daerah, kota, desa bahkan negara, dan juga lintas kepercayaan, yang notabene ada berbagai, itupun tak menghitung si bule yang mempunyai filosofi, bahwa hidup ini tak jauh dari formula satu, dengan pistop sebagai halte antaranya. Bukan masalah siapa yang menjaga atau apa yang dijaga, tapi masalahnya kadang tikus ini selalu membangunkan isi rumah, disaat kita sedang menikmati rasa nyaman kita di dinginnya musim seperti ini. Bukan pula menyangkut tikus ini suka dengan hal-hal yang berbau pedas, seperti lemari bumbu yang acap di grogotinya dan kadang si tikus selalu suka dengan bumbu merek tertentu yang masa kadaluarsanya masih sangat jauh.
Tikus ini kadang nyerobot seenaknya sendiri, nyerobot di ketenangan aktivitas para penghuni kos-kosan, makan seenaknya sendiri tanpa ada komando, atau suka hal yang macam-macam yang sifatnya bertindak kritis, berlagu di depan dapur, sembari mengompori suasana dapur yang memang agak sedikit hangat belakangan ini. Sudah tentu kadang membuat penghuni kos-kosan misah-misuh dengan kelakuannya, bahkan ada juga yang sempat menjerit kalap dan naik kemeja ketika berpapasan denganya.
Saya pun yang kemarin-kemarin menjadi pemakai dapur umum ini, sebagai manusia biasa, yang tidak mau terjadi keributan, akhirnya mempunyai perasaan jijik kepada mahluk ini. Berterimakasihlah, karena kita-kita kemarin sudah mempercayakan pada hewan ini untuk berkeliaran di dapur kita, walaupun dengan catatan, tirulah sifat-sifat manusia penghuninya, yang karena catatan kecil ini lah, mestinya dia berpikir dia bisa tetap eksis di dapur saya yang bersih dan nyaman ini.
Saya awalnya percaya dengan kesetiannya, yang kadang tidak diragukan lagi, membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran ketika kita menggunakan dapur, moral dari kegiatan rutinnya, walaupun itu bisa kita anggap binatang kotor, tapi bisa kita artikan,
bahwa dia bisa melakukan komunikasi Turba, melihat kebawah, yang dalam rezim orde baru di agungkan sebagai pemerhati rakyat, alias mempunya jiwa besar bungkarno, slogan saat masa kejayaan presiden sukarno.
Tikus dengan jiwa yang kerdil ini, sebenarnya mahluk biasa yang tak mengenal kata-kata kejahatan, ataupun kata-kata kasar, bahkan dia pun sempat ber kromo inggil ria. Ia bukan tipe lempar batu sembunyi dompet, makan dan ngotorin dapur, bukan tipe yang menggerogoti apa saja, atau ngebongkar pondasi rumah.
Ia lebih bisa dibilang jenis rumahan yang kerjanya lebih suka individu, jarang saya temuin tikus semacam dia yang suka menyendiri, tau-tau keluar dari persembunyian, dan melahap makanan kita, buka type semacam itu dia. Walau, betapa mulianya watak tikus ini, tapi saya tak bisa membuang dia dari dari daftar hewan tercela, karena perasaan jijay kepadanya.
Sekilas itulah apa yang terjadi di dapur saya, yang membuat saya dan penghuni kos-kosan terancam berperang pendapat, tidak akur, dan berselisih paham. Bukan karena teman-teman saya disini mempunyai badan besar, dan termasuk dalam katagori yang naik meja disaat ketemu hewan ini, ia cuma tidak sangat mengerti tindakan rekannya, yang bisa dibilang pemakai dapur of the year yang terlalu elastis, selalu melindungi tikus ini dari bidikan jebakan, terlalu membiarkan dan selalu memberi peluang si tikus tetap dengan sifat tambeng nya itu. Jika mereka sudah mengomel, wah, layaknya ibu-ibu arisan yang siap dengan ceramahnya, pedas dan menghasut, dan akhirnya saya cuma sekedar pencundang saja, membantah tidak, akhirnya berpura-pura bingung jalan yang terbaik, dan mungkin ini juga demi keamanan tikus dan tetap jalannya sirklus dapur di rumah ini.
Mengeluarkan tikus ini dari keorganisasian salah satu alat pelengkap rumah ini, memang bisa, tapi sapa yang mau ngurusinnya. Toh saya bisa saja seenaknya ngebunuh dengan tuduhan, telah mengotori dapur dan bertentangan dgn Hausordnung alias peraturan rumah nomor sekian pasal anu, selain itu begitulah nurani saya melarang tindakan saya itu, karena saya sudah memberi dia kesempatan berkreasi di dapur ini, dengan cara membiarkan dapur kotor setelah kita melakukan kegiatan memasak. Jika para penghuni rumah ini mengajak bertengkar soal kelakuan si tikus di dapur, saya pasti nekat dengan daya upaya saya untuk melawan mereka. Tapi, bukan berarti saya memberikan kesempatan kepada si dia, agar tidak memperhatikan kelakuannya, dan ceplas-ceplos sesuka hati. Terus ngapain ? bilang ke dia, untuk berhenti asal-asalan, menulis diatas kertas ditaroh di depan pintu dapur, dengan perkataan sopan, "ojo dume, sing dumeh mate´ " (jangan berlagu loe, yang berlagu ntar mati).
Inilah klimaks kebingungan saya sendiri, klimaks inilah yang saya rasakan tak terasa nikmatnya, karena pada akhirnya saya selalu mendapat ledekan, saya bukan cuma yang punya dapur, tapi yang punya tikus-tikus itu, seia dan sekata dengan si tikus. Amarah saya sudah ada di ubun-ubun, untung musim dingin, jadi derajat kepanasannya bisa diturunkan. Tapi, ledekan itu ternyata cuma omongan sekilas teman saya disini, itupun bisa meredam amarah nya mereka, biarlah. Sayapun akhirnya bisa meredam rasa panas itu, demi keutuhan ramah tamah warga disini juga warga dapur ini.
Omelan yang datang tiap kali, ketika tikus sudah memasuki jam kerjanya, kian bertubi-tubi. Saya menghiburnya, kalo si tikus ini adalah mahluk ciptaan tuhan, toh suatu saat pasti ada manfaatnya. Seperti seorang pengkotbah, akhirnya saya bersikap.
Sesungguhnya saya sendiri takjub dengan omongan itu, saya tidak berniat untuk mulia dihadapan teman-teman warga padepokan rumah ini. Tapi, toh saya berharap supaya si tikus tidak menunjukan sikap berlagunya, karena warga dapur ini selalu saja panas dan bisa dikomandai untuk mengepung bahkan memanggang tubuh kecilnya dia, dengan sambal ulek, terasi dan rempah-rempah.
Akhir-akhir ini dapur saya mendapatkan penjaga baru,
bukan penjaga yang rajin membersihkan dapur, atau ahli dalam memasak makanan yang enak-enak, wah bisa bikin restoran padang di jerman kalo gitu, atau penjaga yang berjenis kelamin betina, beramput panjang, tertawa renyah, dan kaki tak kelihatan, bisa-bisa saya kabur dari sini secepat mungkin, karena saya termasuk orang nomor satu di kos-kosan ini yang tidak begitu suka dengan hal yang berbau tahayul alias gaib, dan itu juga bukan bidang ilmu study saya.
Lama saya berselisih dengan warga setempat disini, yang notabene dari berbagai daerah, kota, desa bahkan negara, dan juga lintas kepercayaan, yang notabene ada berbagai, itupun tak menghitung si bule yang mempunyai filosofi, bahwa hidup ini tak jauh dari formula satu, dengan pistop sebagai halte antaranya. Bukan masalah siapa yang menjaga atau apa yang dijaga, tapi masalahnya kadang tikus ini selalu membangunkan isi rumah, disaat kita sedang menikmati rasa nyaman kita di dinginnya musim seperti ini. Bukan pula menyangkut tikus ini suka dengan hal-hal yang berbau pedas, seperti lemari bumbu yang acap di grogotinya dan kadang si tikus selalu suka dengan bumbu merek tertentu yang masa kadaluarsanya masih sangat jauh.
Tikus ini kadang nyerobot seenaknya sendiri, nyerobot di ketenangan aktivitas para penghuni kos-kosan, makan seenaknya sendiri tanpa ada komando, atau suka hal yang macam-macam yang sifatnya bertindak kritis, berlagu di depan dapur, sembari mengompori suasana dapur yang memang agak sedikit hangat belakangan ini. Sudah tentu kadang membuat penghuni kos-kosan misah-misuh dengan kelakuannya, bahkan ada juga yang sempat menjerit kalap dan naik kemeja ketika berpapasan denganya.
Saya pun yang kemarin-kemarin menjadi pemakai dapur umum ini, sebagai manusia biasa, yang tidak mau terjadi keributan, akhirnya mempunyai perasaan jijik kepada mahluk ini. Berterimakasihlah, karena kita-kita kemarin sudah mempercayakan pada hewan ini untuk berkeliaran di dapur kita, walaupun dengan catatan, tirulah sifat-sifat manusia penghuninya, yang karena catatan kecil ini lah, mestinya dia berpikir dia bisa tetap eksis di dapur saya yang bersih dan nyaman ini.
Saya awalnya percaya dengan kesetiannya, yang kadang tidak diragukan lagi, membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran ketika kita menggunakan dapur, moral dari kegiatan rutinnya, walaupun itu bisa kita anggap binatang kotor, tapi bisa kita artikan,
bahwa dia bisa melakukan komunikasi Turba, melihat kebawah, yang dalam rezim orde baru di agungkan sebagai pemerhati rakyat, alias mempunya jiwa besar bungkarno, slogan saat masa kejayaan presiden sukarno.
Tikus dengan jiwa yang kerdil ini, sebenarnya mahluk biasa yang tak mengenal kata-kata kejahatan, ataupun kata-kata kasar, bahkan dia pun sempat ber kromo inggil ria. Ia bukan tipe lempar batu sembunyi dompet, makan dan ngotorin dapur, bukan tipe yang menggerogoti apa saja, atau ngebongkar pondasi rumah.
Ia lebih bisa dibilang jenis rumahan yang kerjanya lebih suka individu, jarang saya temuin tikus semacam dia yang suka menyendiri, tau-tau keluar dari persembunyian, dan melahap makanan kita, buka type semacam itu dia. Walau, betapa mulianya watak tikus ini, tapi saya tak bisa membuang dia dari dari daftar hewan tercela, karena perasaan jijay kepadanya.
Sekilas itulah apa yang terjadi di dapur saya, yang membuat saya dan penghuni kos-kosan terancam berperang pendapat, tidak akur, dan berselisih paham. Bukan karena teman-teman saya disini mempunyai badan besar, dan termasuk dalam katagori yang naik meja disaat ketemu hewan ini, ia cuma tidak sangat mengerti tindakan rekannya, yang bisa dibilang pemakai dapur of the year yang terlalu elastis, selalu melindungi tikus ini dari bidikan jebakan, terlalu membiarkan dan selalu memberi peluang si tikus tetap dengan sifat tambeng nya itu. Jika mereka sudah mengomel, wah, layaknya ibu-ibu arisan yang siap dengan ceramahnya, pedas dan menghasut, dan akhirnya saya cuma sekedar pencundang saja, membantah tidak, akhirnya berpura-pura bingung jalan yang terbaik, dan mungkin ini juga demi keamanan tikus dan tetap jalannya sirklus dapur di rumah ini.
Mengeluarkan tikus ini dari keorganisasian salah satu alat pelengkap rumah ini, memang bisa, tapi sapa yang mau ngurusinnya. Toh saya bisa saja seenaknya ngebunuh dengan tuduhan, telah mengotori dapur dan bertentangan dgn Hausordnung alias peraturan rumah nomor sekian pasal anu, selain itu begitulah nurani saya melarang tindakan saya itu, karena saya sudah memberi dia kesempatan berkreasi di dapur ini, dengan cara membiarkan dapur kotor setelah kita melakukan kegiatan memasak. Jika para penghuni rumah ini mengajak bertengkar soal kelakuan si tikus di dapur, saya pasti nekat dengan daya upaya saya untuk melawan mereka. Tapi, bukan berarti saya memberikan kesempatan kepada si dia, agar tidak memperhatikan kelakuannya, dan ceplas-ceplos sesuka hati. Terus ngapain ? bilang ke dia, untuk berhenti asal-asalan, menulis diatas kertas ditaroh di depan pintu dapur, dengan perkataan sopan, "ojo dume, sing dumeh mate´ " (jangan berlagu loe, yang berlagu ntar mati).
Inilah klimaks kebingungan saya sendiri, klimaks inilah yang saya rasakan tak terasa nikmatnya, karena pada akhirnya saya selalu mendapat ledekan, saya bukan cuma yang punya dapur, tapi yang punya tikus-tikus itu, seia dan sekata dengan si tikus. Amarah saya sudah ada di ubun-ubun, untung musim dingin, jadi derajat kepanasannya bisa diturunkan. Tapi, ledekan itu ternyata cuma omongan sekilas teman saya disini, itupun bisa meredam amarah nya mereka, biarlah. Sayapun akhirnya bisa meredam rasa panas itu, demi keutuhan ramah tamah warga disini juga warga dapur ini.
Omelan yang datang tiap kali, ketika tikus sudah memasuki jam kerjanya, kian bertubi-tubi. Saya menghiburnya, kalo si tikus ini adalah mahluk ciptaan tuhan, toh suatu saat pasti ada manfaatnya. Seperti seorang pengkotbah, akhirnya saya bersikap.
Sesungguhnya saya sendiri takjub dengan omongan itu, saya tidak berniat untuk mulia dihadapan teman-teman warga padepokan rumah ini. Tapi, toh saya berharap supaya si tikus tidak menunjukan sikap berlagunya, karena warga dapur ini selalu saja panas dan bisa dikomandai untuk mengepung bahkan memanggang tubuh kecilnya dia, dengan sambal ulek, terasi dan rempah-rempah.
jagat - am Mittwoch, 25. Mai 2005, 16:16
sumarno nama di akte kelahirannya...
bapak jawa emak sunda,
baru datang di jerman, biar pinter kata bapak nya.
Marno enak di ajak ngobrol sosial
buku agama di belah, serial kho ping ho di suka
Cerita brutus sampe servetus tau,
tapi itu semua tak membuat marno belagu
Marno seasrama dengan jeki cowok metropolitan
jeki keturunan orang bergengsi
katanya sih ilmu yang dicari
tapi, malah hobby melobby
entah wanita, cewek atau perempeye
Dia terlalu bersih, rapih dan pasang aksi
Sedangkan marno, ah, lebih ancur dari ku.
Melintas kamar, bau parfum membahana
dentingan musik klasik mengayun merdu
dilengkapi tivi flat nempel di dinding
tiap malam film di puter di dividi
Tapi, ternyata, semuanya dari kamar si jeki,
jeki kaya dan mempesona,
makanya mungkin aku tak suka jeki
Mangkanya marno lebih aku suka
karena dia lebih sederhana dan mawas diri
Marno dan Jeki, bertahan delapan tahun
jeki bilang, bisnis bokapnya mesti diurus
marno tersenyum lega, ketika sidangnya sudah lulus
Laen ladang, laen alasan buat pulang kampung
10 Tahun hilang berita dari keduanya
ketemu di stasiun jatinegara, lagi duduk di ruang ber AC
Marno ngasih kartu nama, dilanjutin seminggu kemudian makan malam di hilton, nawarin kerjaan kepala logistik
sekalian ngawasin kerjanya jeki, katanya.
Aku pun melongo, memang dunia selalu berputar.
Tersenyum renyah si marno,
Metropolitan tidak lebih kaya dari ponorogo, rupanya.
Mestinya aku tidak belajar ke jerman
tapi cukuplah ke ponorogo.
Kisapujagat
*Marno dari ponorogo
bapak jawa emak sunda,
baru datang di jerman, biar pinter kata bapak nya.
Marno enak di ajak ngobrol sosial
buku agama di belah, serial kho ping ho di suka
Cerita brutus sampe servetus tau,
tapi itu semua tak membuat marno belagu
Marno seasrama dengan jeki cowok metropolitan
jeki keturunan orang bergengsi
katanya sih ilmu yang dicari
tapi, malah hobby melobby
entah wanita, cewek atau perempeye
Dia terlalu bersih, rapih dan pasang aksi
Sedangkan marno, ah, lebih ancur dari ku.
Melintas kamar, bau parfum membahana
dentingan musik klasik mengayun merdu
dilengkapi tivi flat nempel di dinding
tiap malam film di puter di dividi
Tapi, ternyata, semuanya dari kamar si jeki,
jeki kaya dan mempesona,
makanya mungkin aku tak suka jeki
Mangkanya marno lebih aku suka
karena dia lebih sederhana dan mawas diri
Marno dan Jeki, bertahan delapan tahun
jeki bilang, bisnis bokapnya mesti diurus
marno tersenyum lega, ketika sidangnya sudah lulus
Laen ladang, laen alasan buat pulang kampung
10 Tahun hilang berita dari keduanya
ketemu di stasiun jatinegara, lagi duduk di ruang ber AC
Marno ngasih kartu nama, dilanjutin seminggu kemudian makan malam di hilton, nawarin kerjaan kepala logistik
sekalian ngawasin kerjanya jeki, katanya.
Aku pun melongo, memang dunia selalu berputar.
Tersenyum renyah si marno,
Metropolitan tidak lebih kaya dari ponorogo, rupanya.
Mestinya aku tidak belajar ke jerman
tapi cukuplah ke ponorogo.
Kisapujagat
*Marno dari ponorogo
jagat - am Donnerstag, 12. Mai 2005, 23:38
noch kein Kommentar - Kommentar verfassen

Hari teramat pagi setelah lamat-lamat setengah enam menendangkan kicaunya. Hari disisingkan, tebaran lampu saat pagi awal semi mulai dimatikan. Kuantarkan kau pagi ini, kembali ke tempat dimana asa segera di tancapkan, lalu secarik bait-bait kerinduan kan di ukir. Sekaligus, sebuah kata duka cita pada sebuah perjalanan seorang ibu dari rekan yang selalu memandang sebuah kegalauan, tak kan layak di publikasikan.
Sejujurnya tulisan ini baru saja tumbuh, setelah arti dari sebuah perjalanan terjawab dengan sebuah pertanyaan, apalah arti hidup ini. Kala seorang individu tak mengenal Haut Farbe, bentuk anatomi, dan kepercayaan meninggalkan kita semua-semesta, kembali ke tempat yang paling layak, sekaligus diterima dengan hati lapang dada, dan tak mengenal sebuah dimensi kubus dan jam pasir. Perjalanan hidup yang dilakukan tak pernah mengenal istirahat, dan melewati garis-garis kepedihan, nanah dan darah serta ribuan cambukan pada merahnya hati.
Jiwa seorang ibu dari seorang teman, feminisme yang bisa merubah seorang Hitler bersimbuh pada eva braun, Dedes yang mematahkan otot kawatnya arok. Bahkan sosok Ibu di lukiskan oleh virgiawan listyanto, profil yang tak pernah jera menapaki jiwa sunyi, kepedihan adalah makanan sehari-hari. Salah, bila ini disebut sebuah bentuk pengajaran untuk melebarkan arti seorang ibu, atau emak, biasa saya memanggilnya.
"pekuburan cimahi, bandung april 2005,
Sejahtera ya Emak'.
anak yang sering engkau tidak kenali lagi ini hanya bisa menggapai nisan dengan tulisan.."Disini Dikuburkan...." padahal sering banyak waktu kau sisakan untuk aku, salah satu anakmu. Beratus-ratus tumpuk kepingan harap telah kau susun putih, biru, putih, biru warna-warna surga dari do'a-do'a ikhlasmu tidak bisa mempertemukan kita di kubah sempit dan berdebu ini. - Sejahtera ya Emak' sekarang aku sedang bertamu di kuburmu, tak usah kau suguhkan kembali cerita tentang pengorbanan dari detik ke tahun milikmu ketika rasa kasih sayang seorang Emak' tidak bisa dinikmati lagi adalah semesta luka dan puluhan karma yang mendera tanpa-habis-habisnya lumpuh, lunglai dan layu ...aku rindu engkau ya Emak' - Sejahtera ya Emak' kemboja, rumput dan awan-awan teman penantianmu, telah mewartakan, kau selalu tersenyum disini menunggu hari pengumpulan semua benda bergerak bernyawa ataupun semua yang melata, tanah merah ini kan kubawa kubuat arca bukan wajahmu tapi kerinduanku.
sajak seorang penyair, yang masih terus dalam tahap belajar.
----------------------------
Dan semuanya telah pergi, meninggalkan sebuah sketsa kehidupan yang mesti dilengkapi, di tarik garis tebal, dan membentuknya menjati sebuah kenyataan. Pun, sebuah kepergian seorang teman, sahabat.
Sesuatu yang masih terselip dalam hati, semoga menjadi sebuah nasehat, saran atau tombo ati. Semoga perjalanan baru mu menjadi sesuatu yang indah, dan gampang di arungi, tapi, sebelumnya saya hendak bertanya, apa sih sebetulnya perjalanan hidup itu ? sebuah perjalanan yang di gambarkan dengan titik titik hitam, lalu kita menekuninya titik demi titik, hingga pada akhirnya rampung menjadi satu garis lurus ?
Sejujurnya, saya bangga melihat sebuah titel yang bergelimpangan di panggul oleh setiap kelulusan disini, oleh orang kita, tapi lebih bangga lagi, bila semua itu kita abdikan pada bangsa kita sendiri, bangsa indonesia.
Kututurkan jiwa kebanggan ini, setelah melihat banyaknya mereka yang tetap mau mengabdi arogansi aria, tapi dengan lantang kalian berucap, siapa lagi yang akan membangun indonesia, kalo bukan anak-anak manusia seperti kita ini, bangga ucapku sekali lagi.
Tersentak, lamunanku, seorang asep berkata, " nu penting pengabdian, mun laenna mah egal", ternyata kearoganan aria, sombongnya modernisasi, belumlah mengelupas individu-individu kita disini. Mungkin ini bisa menyentak mereka-mereka pemadat kerja serta pengagum tekhnologi, dengan selalu melihat eropa menjadi Koenigreich der Himmel.
Aku bergumam, teman, terimakasih kepergian mu mengisyaratkan seorang cita dari anak bangsa untuk kembali ke tanah air sangatlah berpahala, walau itu hanya sebuah niat.
Tebarkan hal-hal ini, niat baik mu slalu melihat asa di balik reruntuhan bekas krisis ekonomi yang berkepanjangan, vonisi mereka semua dengan kata-kata pemuja mata uang euro, hakimi dengan non nasionalisme, maaf bila aku terlalu banyak mengajari, karena melihat tanah air ditinggalkan, sama halnya dengan melihat kerentaan an seorang nenek tua yang di lecehkan.
Dari beberapa buku sejarah yang pernah saya bilah-bilah halamannya, semuanya mengajarkan apa arti sebuah kata membangun negara, selain agama dan bangsa. Disana rasa nasionalisme selalu dikumandangkan, patriotik di hembuskan dan jiwa mencintai nusantara sebagian dari iman ada pada tiap-tiap hela nafas.
Sahabat, hari bertambah dingin, walaupun Rabu ini mestinya sudah diberitakan cuaca hingga 15 derajat, semoga bait-bait ini menjadi doa, selain wejangan yang berupa kebanggaan bahwa, indonesia membutuhkan seorang seperti kamu, bila ada kata kekecewaan di tempo dulu akan negara koyak ini, maafkan lah, sekarang kau pergi dengan modal ada di bahu kiri kanan, melangkah maju, sebab 1000 langkah disekeliling mu ada lah daerah kekuasaanmu, begitulah kata seorang filosofi cina, Lu Hsun.
Selamat tinggal, dan semoga ombak cobaan di tanah air menjadi suatu tantangan baru dikehidupan seberang kelak.
Didedikasikan untuk mereka yang telah kembali ke tanah air dan seorang Adang yang baru saja ditinggalkan oleh seorang ibunda tercinta. Di saat kepergian dan kehilangan melingkupi kehidupan kita, disaat itu kerinduan perkawanan semakin erat.
Terima kasih untuk persahabatan yang hangat.
jagat - am Donnerstag, 12. Mai 2005, 17:04
noch kein Kommentar - Kommentar verfassen

Forstweg di Freiberg, ramai dengan lalu lalang kendaraan, anak-anak sekolah, ibu-ibu pergi berbelanja, lalu ketika salju turun, penuh dgn putih kapas salju yang menutupi hampir seluruh badan jalan, halaman rumah dan kebun, suasana menjadi merindu.
Terimakasih kepada joey, yang menemani kerinduan ini tuk mencari putihnya kristal salju.
jagat - am Dienstag, 25. Januar 2005, 02:38
noch kein Kommentar - Kommentar verfassen

Gambar ini diambil ketika seorang gadis yang menjalani hidup di perantauan sedang melakukan perjalanan menuju tempat menimba ilmu, lalu aku menghadangnya di tengah jalan. tadinya terlintas melakukan satu dua kata perkenalan, tapi mungkin dia sibuk memikirkan, bahwa hidup ini selicin jalan bersalju, putih, jernih tapi perlu kehati-hatian. Buat joey, yang sekarang menjadi belahan hati ku.
jagat - am Dienstag, 25. Januar 2005, 02:24
noch kein Kommentar - Kommentar verfassen
sisa malam yang kau tinggalkan berubah menjadi
rona pelangi kehidupan pagi
setelah kau bercerita hitam putihnya hidup
dan sisa airmata yang mengkristal
sunyi hati merupakan pergantian dari nya
yang menjadi aliran darah dalam tubuh
sambangi sungai mu dengan kelegaan hati
dan kepekaan jiwa
kan ku guratkan kesabaran pada kanvas masa depan
hingga semua yang bernama luka
menjelma menjadi singgungan senyum pada gelapnya malam
saat kulumat semua duka yang menghiasi raut mukamu
dengan gairah kerinduan akan sebuah kasih
dan kuhabiskan jejak hidup ini dengan sebuah prasasti hati
bahwa aku akan terus ada di pelupuk, kulit dan hati mu
cologne, Saturday, December 25, 2004
rona pelangi kehidupan pagi
setelah kau bercerita hitam putihnya hidup
dan sisa airmata yang mengkristal
sunyi hati merupakan pergantian dari nya
yang menjadi aliran darah dalam tubuh
sambangi sungai mu dengan kelegaan hati
dan kepekaan jiwa
kan ku guratkan kesabaran pada kanvas masa depan
hingga semua yang bernama luka
menjelma menjadi singgungan senyum pada gelapnya malam
saat kulumat semua duka yang menghiasi raut mukamu
dengan gairah kerinduan akan sebuah kasih
dan kuhabiskan jejak hidup ini dengan sebuah prasasti hati
bahwa aku akan terus ada di pelupuk, kulit dan hati mu
cologne, Saturday, December 25, 2004
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:29
ketika salju berterbaran merambah bumi
dia mengenal kembali arti kata cinta
dan membawakan nya ke belahan bumi lainnya
lalu dia tebarkan bunga-bunga disaat musim dingin
dia bercumbu dengan kehangatan alam winter
menari sesaat bersama derasnya hujan yang meredakan
dinginnya bumi
saat ini dia tersenyum ketika uluran tangan datang
dan merengkuhnya erat tak akan dilepaskan
aku kan datang menyambangi mu
seperti hari-hari berganti sesuai dengan jalurnya
Dua pekan bukan waktu yg sedikit
saat matahari bergerak dari jendela kamarnya
dan riuh kereta paling pagi menyambangi nya
tanda bahwa hari mulai di tuntaskan
waktu terus merambat menandakan umur manusia semakin surut
dua kali tidur malamnya lagi dia akan datang
membawa semua rangkaian bunga-bunga kasih sayang
diceritakan kembali masa lalu yang penuh rona warna hidup
aku akan slalu ada disini membelai rambut hitam mu
mematikan rasa kegelisahan hidup
malam ini saat bintang-bintang pergi meninggalkan
ia menebarkan lagi bunga-bunga musim dingin
menunggu hingga jingga ada di horizon
karena melewati malam bersamanya
seakan menggeluti samudra kasih yang tak terhingga
malam musim dingin tak lagi penuh dengan onak hidup
keheningan malam tergantikan dengan senyuman harapan
jangan kau tinggalkan malam ini tanpa bayangmu
kau sapa pagi hanya untukku
kupersembahkan purnama lima belasan ini hanya untukmu
karena seribu luka yang kau ceritakan
hanyalah patut untuk dikubur
dan diganti dengan harapan-harapan
yang akan aku fragmen nyataka kan bersamamu nanti
bantu ini semua menjadi sebuah perwujudan
untuk yang tercinta joewardhani
cologne´24 desember 2004
dia mengenal kembali arti kata cinta
dan membawakan nya ke belahan bumi lainnya
lalu dia tebarkan bunga-bunga disaat musim dingin
dia bercumbu dengan kehangatan alam winter
menari sesaat bersama derasnya hujan yang meredakan
dinginnya bumi
saat ini dia tersenyum ketika uluran tangan datang
dan merengkuhnya erat tak akan dilepaskan
aku kan datang menyambangi mu
seperti hari-hari berganti sesuai dengan jalurnya
Dua pekan bukan waktu yg sedikit
saat matahari bergerak dari jendela kamarnya
dan riuh kereta paling pagi menyambangi nya
tanda bahwa hari mulai di tuntaskan
waktu terus merambat menandakan umur manusia semakin surut
dua kali tidur malamnya lagi dia akan datang
membawa semua rangkaian bunga-bunga kasih sayang
diceritakan kembali masa lalu yang penuh rona warna hidup
aku akan slalu ada disini membelai rambut hitam mu
mematikan rasa kegelisahan hidup
malam ini saat bintang-bintang pergi meninggalkan
ia menebarkan lagi bunga-bunga musim dingin
menunggu hingga jingga ada di horizon
karena melewati malam bersamanya
seakan menggeluti samudra kasih yang tak terhingga
malam musim dingin tak lagi penuh dengan onak hidup
keheningan malam tergantikan dengan senyuman harapan
jangan kau tinggalkan malam ini tanpa bayangmu
kau sapa pagi hanya untukku
kupersembahkan purnama lima belasan ini hanya untukmu
karena seribu luka yang kau ceritakan
hanyalah patut untuk dikubur
dan diganti dengan harapan-harapan
yang akan aku fragmen nyataka kan bersamamu nanti
bantu ini semua menjadi sebuah perwujudan
untuk yang tercinta joewardhani
cologne´24 desember 2004
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:28
kreta paling shubuh baru lalu depan kamarku
dan sampai detik ini aku tak kuasa menutup mata
padahal tubuh ini sangat butuh istirahat
lalu kuresapi setiap bincang kita yang hampir selalu sampai pagi
rasanya campur aduk antara senang, bingung dan resah
oh Tuhanku yang Maha membolak balikan hati,
janganlah Kau cabut perasaan indah ini dari jiwa
peliharalah ia dalam kebun surgaMu
jagalah ia selalu dalam setiap lafas dzikirku...
pelita pun aku padamkan,
yang akhirnya lelapkanku dalam remang lampu jalanan
esok, ku ingin sambut hari baru,
dengan bayang sosokmu di sudut hatiku...
(4 malam menjelang langit Cologne, 22 Desember 04)
Wednesday, December 22, 2004
dan sampai detik ini aku tak kuasa menutup mata
padahal tubuh ini sangat butuh istirahat
lalu kuresapi setiap bincang kita yang hampir selalu sampai pagi
rasanya campur aduk antara senang, bingung dan resah
oh Tuhanku yang Maha membolak balikan hati,
janganlah Kau cabut perasaan indah ini dari jiwa
peliharalah ia dalam kebun surgaMu
jagalah ia selalu dalam setiap lafas dzikirku...
pelita pun aku padamkan,
yang akhirnya lelapkanku dalam remang lampu jalanan
esok, ku ingin sambut hari baru,
dengan bayang sosokmu di sudut hatiku...
(4 malam menjelang langit Cologne, 22 Desember 04)
Wednesday, December 22, 2004
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:27
look around - it's almost summer
yet there's winter in her heart
you could never love another
still, can your fire melt her ice...
can your fire melt her ice
seasons change, you cry in silence
for the love you cannot live without
you've done your best, you tried your hardest
the time has come, be strong, give it up
all you need is a clear horizon,
a clear horizon
all we wish is everyday,
hope and pray,
for all of us
a clear and quiet sky
the darkest night is slowly fading
and the sun will come out to blind your eyes
could it be a new beginning?
trust yourself - you're an angel, you can fly
trust yourself - you're an angel, you can
all we need is a clear horizon...
Freiberg, Tuesday, December 21, 2004
yet there's winter in her heart
you could never love another
still, can your fire melt her ice...
can your fire melt her ice
seasons change, you cry in silence
for the love you cannot live without
you've done your best, you tried your hardest
the time has come, be strong, give it up
all you need is a clear horizon,
a clear horizon
all we wish is everyday,
hope and pray,
for all of us
a clear and quiet sky
the darkest night is slowly fading
and the sun will come out to blind your eyes
could it be a new beginning?
trust yourself - you're an angel, you can fly
trust yourself - you're an angel, you can
all we need is a clear horizon...
Freiberg, Tuesday, December 21, 2004
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:26
saat deringan telpon jadi berarti
kutunggu sampai ia menjerit
mungkin tak lama lagi...
mungkin tak ada...
mungkin besok atau nanti...
saat messenger jadi berarti
kutunggu sampai ai di mu muncul
mungkin tak lama lagi...
mungkin tak ada...
mungkin besok atau nanti...
saat rasa kuatir jadi berarti
kubiarkan saja sampai hari ini berakhir
mungkin tak lama lagi...
joe wardhani,Monday, December 20, 2004
kutunggu sampai ia menjerit
mungkin tak lama lagi...
mungkin tak ada...
mungkin besok atau nanti...
saat messenger jadi berarti
kutunggu sampai ai di mu muncul
mungkin tak lama lagi...
mungkin tak ada...
mungkin besok atau nanti...
saat rasa kuatir jadi berarti
kubiarkan saja sampai hari ini berakhir
mungkin tak lama lagi...
joe wardhani,Monday, December 20, 2004
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:25

Di perjalanan Joe pulang ke rumah...
joe wardhani
Saturday, December 18, 2004
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:24
dingin mengkatupkan kerahnya
hanya untuk mereka yg berani dalam sepi
mengumpulkan semua derita
dan kesedihan dalam tungku kegigihan
yang akhirnya bermetamorfosa menjadi
seorang berpikiran jernih dan bijak
Kenangan akan masa lampau merupakan sebuah sejarah
yg hanya patut untuk di peras manfaatnya
dan tanpa berani membuka lagi lembaran yang sama
persaudaraan adalah semangat yang tak pernah padam
karenanya semua yg bernama ketakutan menjadi keberanian
kecemburuan lah datang, disaat tiap lembar cerita
mengapa tidak kau ambil sebuah jalan menapak yang cukup jelas
mencapai sebuah persinggahan sana
tapi terlalu banyak berpikir akan arti sebuah getaran jiwa
berhentilah untuk terus berjalan dalam ruangan labirin
yang bisa menyesatkan sampai jauh dari tujuan awal
akhirnya setia menunggu untuk di sambangin
dan andai musim dingin ini cepat berganti
akan ternyatakan bawah hidup
membutuhkan sebuah tenaga tambahan
untuk menapaki jalan ke persinggahan akhir
tak akan terlesatkan kata cinta
bila cita ini masih ada di awang-awang suargaloka
hanya permadani aladin yang mampu menerbangkan kesana
atau kekuatan akan akal pikiran
sebagai mahligai didepan para begawan
agar mereka yakin siapa nanti yang akan bersanding
lalu cerita seperti di pewayangan,
insan tuhan di bagian lain sedang mendalang
mencoba untuk menyingkirkan secawan anggur digenggaman
dan mengubahnya menjadi aliran sungai rhein yang pasang
kita tidak akan bersatu,
sembari bathin ini menghangatkan tangannya
karena jalan ini pernah dilalui dan terlalu banyak aral
di ujung persinggahan sana
semoga semuanya tidak berakhir dengan perseturuan ucapku
karena, dalam hitungan purnama kau sudah menapaki tanah baru
dan yang berjalan di dalam ruangan labirin
kau hadirkan pilihan dua sisi uang logam
antara ya atau diam
lebih memilih untuk datang disambangin
ini adalah sebuah pergolakan seperti dipadang kurusetra
bahwa kita terlampau jengah dengan kesendirian
kan kuguratkan sebuah prasasti hati
kan kusudahi sebuah sintesa perjalanan ini
kan ku sambangi dengan sayap-sayap rajawali
sembari ku persembahkan sebuah melodiku sendiri
untukmu joe wardhani
cologne, 17 desember 04
hanya untuk mereka yg berani dalam sepi
mengumpulkan semua derita
dan kesedihan dalam tungku kegigihan
yang akhirnya bermetamorfosa menjadi
seorang berpikiran jernih dan bijak
Kenangan akan masa lampau merupakan sebuah sejarah
yg hanya patut untuk di peras manfaatnya
dan tanpa berani membuka lagi lembaran yang sama
persaudaraan adalah semangat yang tak pernah padam
karenanya semua yg bernama ketakutan menjadi keberanian
kecemburuan lah datang, disaat tiap lembar cerita
mengapa tidak kau ambil sebuah jalan menapak yang cukup jelas
mencapai sebuah persinggahan sana
tapi terlalu banyak berpikir akan arti sebuah getaran jiwa
berhentilah untuk terus berjalan dalam ruangan labirin
yang bisa menyesatkan sampai jauh dari tujuan awal
akhirnya setia menunggu untuk di sambangin
dan andai musim dingin ini cepat berganti
akan ternyatakan bawah hidup
membutuhkan sebuah tenaga tambahan
untuk menapaki jalan ke persinggahan akhir
tak akan terlesatkan kata cinta
bila cita ini masih ada di awang-awang suargaloka
hanya permadani aladin yang mampu menerbangkan kesana
atau kekuatan akan akal pikiran
sebagai mahligai didepan para begawan
agar mereka yakin siapa nanti yang akan bersanding
lalu cerita seperti di pewayangan,
insan tuhan di bagian lain sedang mendalang
mencoba untuk menyingkirkan secawan anggur digenggaman
dan mengubahnya menjadi aliran sungai rhein yang pasang
kita tidak akan bersatu,
sembari bathin ini menghangatkan tangannya
karena jalan ini pernah dilalui dan terlalu banyak aral
di ujung persinggahan sana
semoga semuanya tidak berakhir dengan perseturuan ucapku
karena, dalam hitungan purnama kau sudah menapaki tanah baru
dan yang berjalan di dalam ruangan labirin
kau hadirkan pilihan dua sisi uang logam
antara ya atau diam
lebih memilih untuk datang disambangin
ini adalah sebuah pergolakan seperti dipadang kurusetra
bahwa kita terlampau jengah dengan kesendirian
kan kuguratkan sebuah prasasti hati
kan kusudahi sebuah sintesa perjalanan ini
kan ku sambangi dengan sayap-sayap rajawali
sembari ku persembahkan sebuah melodiku sendiri
untukmu joe wardhani
cologne, 17 desember 04
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:21
Freiberg sepi, Yat...
Gak kayak Köln yang penuh dengan mahasiswa dan selalu rame dikunjungi turis
Disini hari biasa aja gak banyak liat orang
Mau liat kerumunan ya ke Weinachtsmarkt aja
Disini busnya 30 menit sekali
es lohnt sich nicht buat jadi sarana transportasi
cukup ngandelin ferari butut udah bisa keliling Freiberg
Disini kalo udah gelap asli kayak kota mati
Bikin syerem kalo di luar sendirian
Tapi aman sih, aman-aman aja
Namanya juga bekas preman, cuman kota kecil beginian sih bukan masalah
Yah, begini ni deh kalo sudah menjelang malam
Balik ke rumah masing masing
Nonton film, nongkrong depan komputer atau belajar
Telpon Jeng Titis mah jatah tiap malem
Kalo beruntung ya ktemu temen lama di messenger terus ngobrol
Kalo enggak ya ke dapur, masak atau bikin kue
Kedengerannya bosen ya?
Iya sih, tapi ini bagus buat orang bertapa
Tapi bertapanya gak mau lama-lama ah, taun depan mau turun gunung
Mau liat dunia lagi
Mau liat orang orang lagi
Mau jadi bagian dari denyut kesibukan
Artinya??
Saatnya pulang ke tanah air tercinta kalau semua kewajiban pada ilmu sudah rampung...
joe Wardhani
Gak kayak Köln yang penuh dengan mahasiswa dan selalu rame dikunjungi turis
Disini hari biasa aja gak banyak liat orang
Mau liat kerumunan ya ke Weinachtsmarkt aja
Disini busnya 30 menit sekali
es lohnt sich nicht buat jadi sarana transportasi
cukup ngandelin ferari butut udah bisa keliling Freiberg
Disini kalo udah gelap asli kayak kota mati
Bikin syerem kalo di luar sendirian
Tapi aman sih, aman-aman aja
Namanya juga bekas preman, cuman kota kecil beginian sih bukan masalah
Yah, begini ni deh kalo sudah menjelang malam
Balik ke rumah masing masing
Nonton film, nongkrong depan komputer atau belajar
Telpon Jeng Titis mah jatah tiap malem
Kalo beruntung ya ktemu temen lama di messenger terus ngobrol
Kalo enggak ya ke dapur, masak atau bikin kue
Kedengerannya bosen ya?
Iya sih, tapi ini bagus buat orang bertapa
Tapi bertapanya gak mau lama-lama ah, taun depan mau turun gunung
Mau liat dunia lagi
Mau liat orang orang lagi
Mau jadi bagian dari denyut kesibukan
Artinya??
Saatnya pulang ke tanah air tercinta kalau semua kewajiban pada ilmu sudah rampung...
joe Wardhani
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:18
noch kein Kommentar - Kommentar verfassen
kau sapa aku dalam tapaku
dan ku pun jabat hangat perkenalan kita
semoga perkenalan ini bisa membawa kita ke persahabatan di alam nyata
begitu pesan pertamamu di halaman elektronik
dan setelahnya jutaan karakter digital wakili segala diskusi
tentang orang-orang terdekat, tentang impian, tentang cinta, tentang hidup...
betahnya kita ngobrol sampai pagi
rasanya seperti ketemu teman lama!
senangnya berbagi denganmu...
joe Wardhani,
Friday, December 17, 2004
dan ku pun jabat hangat perkenalan kita
semoga perkenalan ini bisa membawa kita ke persahabatan di alam nyata
begitu pesan pertamamu di halaman elektronik
dan setelahnya jutaan karakter digital wakili segala diskusi
tentang orang-orang terdekat, tentang impian, tentang cinta, tentang hidup...
betahnya kita ngobrol sampai pagi
rasanya seperti ketemu teman lama!
senangnya berbagi denganmu...
joe Wardhani,
Friday, December 17, 2004
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:16
Monday, December 13, 2004
Kalau ada kata yang mendeskripsikan perasaan saat ini mungkin bisa diwakilkan -sebagian- dengan kata KANGEN. Sama Nyokap, biar deket di kuping tetep aja gak bisa berduaan di tempat tidur sambil nge gosip sampe tengah malem. Apalagi kalau ada maunya: 'Aduh mama sayangku cintaku, makasi ya'. Sama Jeng Titis, paling paling deh sama ini anak. Deket di kuping sampe ni kuping kepanasan :D Kangen bangun siang bareng, menjalani hidup serba gak jelas kalo lagi bareng. Untung kereta di Jerman mahal.
Dan gak lupa kangennya sama mang baso tahu di jalan Ciliwung. Sama gado-gado di Kemayoran. Sama pecel lele yang suka bikin sakit perut abis minta tambah nasi sambil kepedesan. Sama bang Ocim yang jual sop kaki kambing di Kedoya. Sama kerupuk putih cepek-an. Sama tukang es cendol Elisabeth di Cihampelas. Sama sagu rangi nya punya Betawi. Sama Dufan, yang gurem tapi ngangenin. Sama susu murni Lembang dan Landschaftnya. Sama martabak manis si Kribo di jalan Jalaprang depan komplex. Sama motor bebek yang hampir rongsok, teman setia mengejar cinta dan ilmu. Sama bau kebon Rereng Barong Delapan kalo abis diguyur ujan.
Eh, ada lagi kangen yang bener-bener ngangenin... Apa tuh???? Kangen punya pacar... huehehehehe ude ah, lagi gak jelas gini....
joe Wardhani
Kalau ada kata yang mendeskripsikan perasaan saat ini mungkin bisa diwakilkan -sebagian- dengan kata KANGEN. Sama Nyokap, biar deket di kuping tetep aja gak bisa berduaan di tempat tidur sambil nge gosip sampe tengah malem. Apalagi kalau ada maunya: 'Aduh mama sayangku cintaku, makasi ya'. Sama Jeng Titis, paling paling deh sama ini anak. Deket di kuping sampe ni kuping kepanasan :D Kangen bangun siang bareng, menjalani hidup serba gak jelas kalo lagi bareng. Untung kereta di Jerman mahal.
Dan gak lupa kangennya sama mang baso tahu di jalan Ciliwung. Sama gado-gado di Kemayoran. Sama pecel lele yang suka bikin sakit perut abis minta tambah nasi sambil kepedesan. Sama bang Ocim yang jual sop kaki kambing di Kedoya. Sama kerupuk putih cepek-an. Sama tukang es cendol Elisabeth di Cihampelas. Sama sagu rangi nya punya Betawi. Sama Dufan, yang gurem tapi ngangenin. Sama susu murni Lembang dan Landschaftnya. Sama martabak manis si Kribo di jalan Jalaprang depan komplex. Sama motor bebek yang hampir rongsok, teman setia mengejar cinta dan ilmu. Sama bau kebon Rereng Barong Delapan kalo abis diguyur ujan.
Eh, ada lagi kangen yang bener-bener ngangenin... Apa tuh???? Kangen punya pacar... huehehehehe ude ah, lagi gak jelas gini....
joe Wardhani
jagat - am Sonntag, 26. Dezember 2004, 16:14
